Nasional

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Terdengar Suara Dentuman dan Gemuruh

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, mengatakan erupsi terjadi pada pukul 22.18 WIB. Saat kejadian, visual letusan tidak terlihat.

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Terdengar Suara Dentuman dan Gemuruh
Gunung Semeru .

fin.co.id -  Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Rabu malam. Gunung api dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu erupsi disertai suara dentuman dan gemuruh.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, mengatakan erupsi terjadi pada pukul 22.18 WIB. Saat kejadian, visual letusan tidak terlihat.

"Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.18 WIB. Visual letusan tidak teramati," kata Agastya Rajendra dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Jawa Timur.

Berdasarkan hasil pemantauan, aktivitas erupsi tersebut terekam alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 25 mm. Durasi erupsi tercatat berlangsung selama 128 detik.

"Letusan Gunung Semeru itu disertai suara dentuman/gemuruh," tuturnya.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho turut membenarkan adanya suara gemuruh dan dentuman yang terdengar bersamaan dengan aktivitas erupsi Gunung Semeru.

"Alhamdulillah tidak ada dampak akibat suara gemuruh tersebut," ujarnya.

Saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. BPBD mengingatkan masyarakat untuk mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.

Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," ujarnya.

Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Wilayah tersebut dinilai masih rawan terhadap lontaran batu pijar.

Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas, guguran lava, maupun lahar yang dapat mengalir melalui sungai dan lembah yang berhulu di puncak Semeru.

"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ucap Isnugroho. *

Berita Terkait