Politik

Prabowo Buka Kans Reshuffle, Pengamat Soroti Babak Kedua Pemerintahan

Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan melakukan perombakan kabinet menjelang genap dua tahun masa pemerintahannya.

Prabowo Buka Kans Reshuffle, Pengamat Soroti Babak Kedua Pemerintahan
Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Foto: Antara

fin.co.id - Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan melakukan perombakan kabinet menjelang genap dua tahun masa pemerintahannya. Wacana tersebut disampaikan Prabowo saat mengikuti program Prabowo Menjawab pada Rabu, 16 September 2026.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat perhatian dari pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago. Ia menilai pernyataan Presiden dapat dibaca sebagai sinyal mengenai kemungkinan penataan kembali komposisi kabinet untuk menghadapi fase berikutnya pemerintahan.

“Menurut saya, ini bukan sekadar soal mengganti menteri. Prabowo sedang menyiapkan formasi untuk babak kedua. Setelah dua tahun pertama membangun tim, sekarang tantangannya adalah bagaimana tim ini bekerja lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak,” kata Arifki, Sabtu, 19 September 2026.

Arifki menyoroti perumpamaan yang digunakan Prabowo ketika menggambarkan kabinet sebagai sebuah kesebelasan sepak bola. Menurutnya, pergantian pemain dalam sebuah tim tidak selalu berkaitan dengan kegagalan pemain sebelumnya, tetapi dapat dipengaruhi kebutuhan strategi dan kondisi pertandingan.

Ia kemudian mengibaratkan Presiden sebagai sosok yang menentukan susunan pemain sekaligus strategi permainan kabinet.

Kalau kabinet adalah kesebelasan, maka Presiden bukan hanya memilih pemain, tetapi juga menentukan formasi. Ketika pertandingan memasuki babak kedua, bisa saja strategi berubah dan pemain yang diturunkan juga berubah,” ujarnya.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, Arifki menilai capaian kerja para menteri akan semakin terlihat melalui hasil program yang dijalankan. Evaluasi tidak lagi hanya berkaitan dengan proses membangun tim, tetapi juga kemampuan menghasilkan capaian yang dirasakan masyarakat.

“Dua tahun pertama adalah masa untuk membangun dan menguji tim. Setelah ini, tidak cukup hanya bisa bermain. Menteri harus bisa mencetak gol. Artinya, program harus berjalan, masalah harus diselesaikan, dan hasilnya harus dirasakan masyarakat,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar pembahasan mengenai reshuffle tidak berhenti pada spekulasi mengenai nama-nama menteri yang kemungkinan diganti atau dipertahankan.

“Jangan terjebak pada teka-teki nama. Lihat strateginya. Siapa yang masuk harus menjawab kebutuhan apa yang ingin diselesaikan Presiden,” ujar Arifki.

Menurut Arifki, apabila perombakan kabinet dilakukan, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah pada fase berikutnya.

“Yang akan menentukan makna reshuffle bukan banyaknya menteri yang diganti, tetapi seberapa cepat pemerintahan bergerak setelahnya. Kalau pergantian pemain membuat permainan lebih cepat dan lebih efektif, berarti reshuffle punya tujuan yang jelas,” katanya.

Ia menambahkan, keputusan mengenai posisi menteri merupakan bagian dari kewenangan Presiden dalam menata pemerintahan sesuai kebutuhan dan target yang ingin dicapai.

“Kursi menteri itu bukan kursi nyaman, tapi kursi kerja. Ketika Presiden merasa membutuhkan pemain baru, itu bagian dari kewenangan Presiden untuk memastikan pemerintahannya berjalan sesuai target,” pungkasnya.

Berita Terkait