Kesehatan . 20/09/2026, 09:40 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak-anak memiliki risiko lebih tinggi tertular influenza tipe A maupun B dibandingkan orang dewasa. Kerentanan tersebut terutama perlu diperhatikan pada anak usia di bawah lima tahun.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT (K) menjelaskan, posisi tubuh anak yang lebih rendah membuat mereka lebih mudah menghirup partikel dari udara ketika seseorang batuk atau bersin.
“Jangan heran, anak itu tingginya kan masih di bawah dewasa. Merekalah yang kalau kita bicara, kita bersin, kita batuk, akan menghirup semua partikel-partikel halus. Sehingga merekalah yang berisiko tertular,” kata Anggraini dalam diskusi daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu 20 September 2026.
Menurut Anggraini, kelompok anak yang memiliki risiko lebih tinggi meliputi mereka yang berusia di bawah lima tahun. Risiko juga meningkat pada anak yang dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA), terutama jika berada di ruangan yang penuh dan memiliki ventilasi minim.
Selain itu, anak dengan gangguan neurologi atau tumbuh kembang, mereka yang menjalani perawatan dalam jangka panjang, serta anak yang tinggal di lingkungan padat juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang menjadi salah satu faktor yang membuat anak lebih rentan mengalami infeksi. Anak juga belum memiliki pengalaman paparan terhadap berbagai jenis virus sebanyak orang dewasa.
Ukuran tubuh anak yang lebih kecil turut menjadi faktor. Partikel virus yang berada di udara dapat lebih mudah terhirup, terutama ketika berada di lingkungan dengan sirkulasi udara yang buruk.
Tidak hanya lebih mudah tertular, anak yang sudah terinfeksi influenza juga berpotensi menyebarkan virus dalam waktu lebih lama. Kondisi serupa dapat terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu atau immunocompromised.
Anggraini, yang juga menjabat sebagai Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, menyebut sekitar 5 persen anak yang terkena influenza membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok tersebut, sekitar 80 persen merupakan pasien berusia di bawah dua tahun dan separuhnya adalah bayi berusia kurang dari enam bulan.
Influenza pada anak dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam tinggi, kelelahan, kehilangan nafsu makan, serta nyeri atau pegal pada tubuh. Hidung berair juga dapat menjadi salah satu tanda yang muncul.
Gejala tersebut dapat berkembang dengan cepat dan membuat penderita membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang, bahkan hingga beberapa minggu.
Untuk mencegah penularan, Anggraini menganjurkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rajin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, serta memastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi.
Vaksinasi influenza juga telah tersedia dan dapat menjadi salah satu upaya perlindungan terhadap penyakit tersebut.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga sirkulasi udara dengan membuka jendela dan menghindari kerumunan di ruangan ber-AC. Berjemur di bawah sinar matahari juga disebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Untuk pengobatan, Anggraini menyebut paracetamol masih dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala. Sementara penggunaan antibiotik tidak terlalu dianjurkan karena influenza disebabkan oleh virus. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media