Nasional

Gus Nadir Bela Penulis Buku Memburu Muhammad, Minta Buku Dibaca Utuh,  Jangan Lihat Judulnya Doang

Gus Nadir diketahui merupakan penulis kata pengantar buku tersebut. Ia menulis pengantar berjudul "Memburu Imajinasi Penulis" pada 2020.

Gus Nadir Bela Penulis Buku Memburu Muhammad, Minta Buku Dibaca Utuh,  Jangan Lihat Judulnya Doang
Cendekiawan Nahdatul Ulama NU, Nadirsyah Husein alias Gus Nadir

fin.co.id -  Akademisi sekaligus intelektual Nahdatul Ulama (NU), Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir turut memberikan penjelasan mengenai buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani yang belakangan dipersoalkan sejumlah pihak.

Gus Nadir diketahui merupakan penulis kata pengantar buku tersebut. Ia menulis pengantar berjudul "Memburu Imajinasi Penulis" pada 2020.

Gus Nadir mengatakan kembali teringat isi buku tersebut setelah diskusi mengenai karya itu dibatalkan dan muncul tuduhan penghinaan agama. Menurutnya, cerita yang ia baca justru membuatnya semakin merasakan kerinduan terhadap keteladanan Nabi Muhammad.

Ia menilai terdapat perbedaan antara kesan yang muncul ketika seseorang hanya melihat judul dengan pemahaman setelah membaca keseluruhan cerita.

"Saya memahami mengapa judul Memburu Muhammad membuat sebagian orang terkejut. Nama Muhammad memiliki tempat yang amat dalam di hati umat Islam. Kita menyebutnya dalam salawat, merindukannya dalam doa, dan mengenalkannya kepada anak-anak dengan penuh cinta. Kata "memburu" yang diletakkan di depan nama itu dapat menimbulkan kesan mengancam" ujarnya lewat keterangan tertulis, dikutip pada Selasa 29 September 2026.

Dia menilai, keterkejutan belum merupakan bukti penghinaan. Sebab ada pertanyaan yang muncul dari judul buku tersebut. "Siapa yang memburu, siapa yang diburu, dan apa yang hendak disampaikan melalui perburuan tersebut?" ujarnya.

Menurut Gus Nadir, cerita dalam Memburu Muhammad menghadirkan tokoh Abu Jahal dalam dunia modern. Tokoh tersebut digambarkan memburu orang-orang bernama Muhammad karena ingin menemukan sosok yang memiliki keteladanan seperti Nabi Muhammad.

"Dalam cerita Feby, Abu Jahal hadir di dunia modern. Ia memburu orang-orang bernama Muhammad, tetapi kecewa karena tidak menemukan sosok seperti musuh abadinya dahulu, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam" ujarnya.

Ia menjelaskan, konteks cerita menjadi berbeda ketika judul dibaca bersama keseluruhan substansinya. Dalam pandangannya, yang melakukan tindakan "memburu" adalah tokoh Abu Jahal, bukan Feby sebagai penulis.

"Jika judul itu dibaca bersama substansi kisahnya, konteksnya menjadi jelas: "Abu Jahal Memburu Nabi Muhammad". Itulah penjelasan tentang siapa yang bertindak dan siapa yang dicarinya. Abu Jahal mencari musuh abadinya melalui orang-orang bernama Muhammad yang ditemuinya di dunia modern" paparnya.

Gus Nadir menilai tindakan seorang tokoh dalam karya fiksi tidak dapat secara otomatis disamakan dengan sikap penulisnya.

"Yang memburu adalah Abu Jahal, tokoh dalam cerita. Mengubah tindakan tokoh menjadi tuduhan terhadap pengarang merupakan kekeliruan membaca yang mendasar. Penulis dapat menghadirkan kebencian untuk memperlihatkan keburukannya. Seorang musuh dapat dimunculkan untuk menyingkap kebesaran orang yang dimusuhinya" katanya.

Ia juga mengatakan kehadiran Abu Jahal dalam cerita justru dapat digunakan untuk melihat kembali keteladanan Nabi Muhammad.

"Menghadirkan Abu Jahal dalam cerita tidak menjadikan penulis pengikut Abu Jahal. Lantas, di mana letak penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam judul dan alur tersebut? Saya tidak menemukannya. Yang saya temukan justru gugatan terhadap jarak antara kemuliaan akhlak Nabi dan perilaku kita yang mengaku mencintainya. Di situlah saya merasa tertusuk."

Persoalkan Tuduhan Penghinaan

Berita Terkait