Nasional

Gus Nadir Bela Penulis Buku Memburu Muhammad, Minta Buku Dibaca Utuh,  Jangan Lihat Judulnya Doang

Gus Nadir diketahui merupakan penulis kata pengantar buku tersebut. Ia menulis pengantar berjudul "Memburu Imajinasi Penulis" pada 2020.

Gus Nadir Bela Penulis Buku Memburu Muhammad, Minta Buku Dibaca Utuh,  Jangan Lihat Judulnya Doang
Cendekiawan Nahdatul Ulama NU, Nadirsyah Husein alias Gus Nadir

Gus Nadir kemudian mempertanyakan dasar tuduhan penghinaan terhadap Islam yang diarahkan kepada karya tersebut. Menurut dia, tuduhan semacam itu perlu disertai pembacaan terhadap teks secara utuh.

"Karena itu, saya keberatan terhadap upaya menjadikan persoalan judul ini sebagai tuduhan penghinaan terhadap Islam tanpa pembacaan dan penjelasan tekstual yang memadai. Tuduhan sebesar itu menuntut tanggung jawab yang besar pula. Bagian mana yang menghina? Bagaimana konteksnya? Apakah yang dipersoalkan merupakan ucapan tokoh, tindakan tokoh, atau pesan keseluruhan cerita?" ujarnya.

Ia menilai pengulangan sebuah tuduhan tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk membuktikannya.

"Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab. Pengulangan tuduhan tidak dapat menggantikan pembuktian. Banyaknya orang yang tersinggung juga tidak dengan sendirinya memastikan bahwa pembacaan mereka tepat" katanya.

Menurut Gus Nadir, perasaan terluka akibat sebuah karya tetap perlu didengarkan. Namun, perasaan tersebut menurutnya perlu dibedakan dari pembuktian ketika seseorang menuduh pihak lain melakukan penghinaan terhadap agama.

"Perasaan terluka patut didengar. Tetapi ketika perasaan itu menjadi dasar untuk menuduh orang lain menghina agama, alasan dan buktinya harus dapat diperiksa."

Minta Buku Dibaca Secara Utuh

Gus Nadir juga menyoroti potensi persoalan ketika sebuah judul menyebar lebih cepat dibandingkan isi karya. Menurutnya, hal tersebut dapat membuat orang mengambil kesimpulan sebelum memahami konteks cerita.

"Saya tidak mengetahui apa yang telah dibaca oleh setiap orang yang menolak buku ini. Saya juga tidak hendak menebak niat mereka. Namun, sebuah judul dapat beredar jauh lebih cepat daripada cerita yang memberinya makna. Dua kata cukup untuk memancing keterkejutan. Memahami ironi dan pergulatan tokoh membutuhkan waktu, perhatian, serta kesediaan menunda kesimpulan."

Ia berharap polemik tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan pembacaan karya secara menyeluruh.

Menurut Gus Nadir, masyarakat tidak perlu dipaksa memilih antara membela agama atau memberikan ruang untuk membaca dan memahami sebuah karya.

"Pilihan semacam itu tidak adil. Meminta bukti, membaca secara utuh, dan mendengarkan penjelasan merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga kehormatan semua pihak."

Ia juga mengingatkan agar kritik terhadap perilaku umat tidak otomatis dianggap sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad.

"Ada kekeliruan lain yang perlu kita hindari: menyamakan kritik terhadap perilaku umat dengan penghinaan terhadap Nabi. Ketika sebuah cerita membuat kita menyadari bahwa perilaku kita jauh dari keteladanan beliau, kemuliaan Nabi justru menjadi ukuran yang memperlihatkan kekurangan tersebut."

Ajak Membuka Buku dan Berdialog

Berita Terkait