Rupiah Hari Ini Dibayangi Tekanan Dolar AS dan Geopolitik, BI Perkuat Intervensi Pasar
Rupiah diperkirakan bergerak di Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS, di tengah risiko inflasi AS, konflik geopolitik, dan intervensi BI.
fin.co.id - Tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah pada Senin, 12 Oktober 2026. Risiko kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS), pergerakan yield obligasi pemerintah AS, serta ketegangan geopolitik membuat mata uang Indonesia berpotensi bergerak terbatas, meskipun harga minyak mulai terkoreksi dan sejumlah mata uang Asia menguat.
Mengacu data Bloomberg, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sempat dibuka menguat 0,02% ke posisi Rp17.915 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Rupiah offshore kembali melemah 0,04% ke level Rp17.927 per dolar AS.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah hari ini diperkirakan berkonsolidasi di rentang Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS. Perkiraan ini merujuk pada penguatan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.883 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan lalu.
Inflasi AS dan Geopolitik Membayangi Rupiah
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah rupiah adalah perkembangan inflasi AS. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan negara tersebut berpotensi meningkat ke kisaran 3,6%-3,7%. Jika realisasinya kembali melampaui perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama berpeluang menguat dan mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
Baca Juga
Ekspektasi inflasi tersebut mulai memengaruhi pasar obligasi AS. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 1,1 basis poin (bps) menjadi 5,23%.
Arah dolar AS juga masih bergantung pada ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan para pejabat bank sentral yang dijadwalkan pekan ini.
Di pasar valuta Asia, sejumlah mata uang menunjukkan penguatan pada pukul 07.30 WIB. Won Korea Selatan mencatat kenaikan paling tajam sebesar 0,41%, disusul yen Jepang, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia dengan penguatan yang lebih terbatas.
Meski demikian, pergerakan positif tersebut belum cukup untuk memastikan pembalikan tren pelemahan mata uang kawasan. Pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Fed masih menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar.
Sementara itu, harga minyak Brent yang sempat menguat mulai berbalik melemah pada perdagangan pagi. Brent awalnya naik 0,22% ke US$104,94 per barel, tetapi kemudian turun 0,91% ke US$103,95 per barel. Indeks dolar AS juga sedikit terkoreksi ke level 102,2.
Baca Juga
Pergerakan harga minyak dan indeks dolar AS tersebut berpotensi memberi sedikit ruang bagi rupiah dan sejumlah mata uang kawasan untuk bertahan. Namun, risiko geopolitik masih membatasi peluang penguatan rupiah.
Eskalasi serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan perdagangan global.
Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim adanya kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina sedikit meredakan gejolak harga minyak setelah serangan kelompok Houthi.
Dampaknya, kenaikan yield obligasi AS belum sepenuhnya diikuti pasar obligasi negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang relatif stabil di 3%, China di 1,67%, dan Korea Selatan di 4,39%.