Politik . 13/10/2026, 19:28 WIB

174 Ribu Warga Terserang ISPA Akibat Karhutla, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

Pada 7 Oktober 2026, kecelakaan beruntun yang melibatkan sembilan kendaraan terjadi di Tulang Bawang, Lampung, dan mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Insiden tersebut berlangsung saat jarak pandang dilaporkan turun hingga kurang dari 50 meter akibat kabut asap pekat.

Peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada akhir September. Seorang siswi meninggal dunia dalam kecelakaan yang berkaitan dengan terbatasnya jarak pandang.

Dampak kabut asap bahkan dilaporkan sampai ke Malaysia. Yahya menyoroti informasi mengenai tiga kakak beradik di Johor yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan ketika sedang dalam perjalanan menuju sekolah.

Sebelumnya, otoritas Malaysia menetapkan penghentian sementara seluruh kegiatan belajar-mengajar pada 8–9 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil menyusul kabut asap yang bertahan dan penurunan kualitas udara yang dikaitkan dengan karhutla di Indonesia.

Yahya menyayangkan dampak kebakaran yang turut dirasakan masyarakat di negara tetangga. Dia meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan karhutla sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkannya terhadap masyarakat.

“Ini menjadi sebuah keprihatinan, bagaimana karhutla telah menjadi momok bagi banyak orang, bahkan warga negara tetangga juga ikut merasakan dampaknya. Kita harap pemerintah bisa melakukan berbagai intervensi untuk segera menyelesaikan karhutla,” tuturnya.

Laporan Kemenkes juga mencatat adanya warga yang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dampak karhutla. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah korban luka berat atau pasien rawat inap terbanyak, yakni 313 orang.

Sementara itu, kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan disebut telah memengaruhi kehidupan sekitar 12,5 juta jiwa. Dampaknya meliputi gangguan kesehatan dan kerusakan lingkungan, bahkan sebagian masyarakat di beberapa daerah masih harus bertahan di tempat pengungsian.

DPR Minta Sistem Triase dan Perlindungan Kelompok Rentan Diperkuat

Melihat luasnya dampak karhutla, Yahya meminta Kemenkes memastikan sistem triase diterapkan secara optimal di fasilitas kesehatan.

Triase merupakan metode untuk mengelompokkan pasien berdasarkan tingkat kegawatan penyakit atau cedera. Dengan sistem ini, pasien yang membutuhkan tindakan medis segera dapat diprioritaskan sehingga risiko komplikasi dapat ditekan.

Yahya menilai penanganan sejak awal harus menjadi perhatian utama karena karhutla menimbulkan ancaman kesehatan secara langsung maupun tidak langsung.

“Dengan kondisi seperti ini, semua warga menjadi rentan, karena dampak karhutla itu ke semua, baik dampak kesehatan langsung, maupun dampak tidak langsungnya. Maka penanganan awal untuk korban harus menjadi perhatian,” tegasnya.

Dia juga meminta pemerintah memprioritaskan perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan lain yang meningkatkan risiko akibat paparan asap.

Untuk menjangkau warga secara lebih efektif, fasilitas kesehatan bersama layanan kesehatan berbasis masyarakat perlu dilibatkan secara aktif. Upaya tersebut diharapkan membantu petugas mengidentifikasi kebutuhan medis warga lebih cepat dan menentukan penanganan yang sesuai.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com