Nasional

BNPB Seleksi Bantuan Asing untuk Karhutla, Prioritaskan Alat dan Teknologi

BNPB akan menyeleksi tawaran bantuan dari sejumlah negara untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia

BNPB Seleksi Bantuan Asing untuk Karhutla, Prioritaskan Alat dan Teknologi
Kantor BNPB

fin.co.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menyeleksi tawaran bantuan dari sejumlah negara untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pemerintah memprioritaskan bantuan berupa peralatan dan teknologi yang belum tersedia di dalam negeri atau dinilai mampu meningkatkan efektivitas pemadaman.

Kepala BNPB Kristomei Sianturi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, bantuan dari negara lain lebih dibutuhkan untuk memperkuat dukungan teknis dan sarana operasional.

“Teknologi dong, alat, dan teknologi ya. Kalau manusia, SDM kita banyak kok,” kata Kristomei dikutip, Kamis, 22 Oktober 2026.

Ia mengungkapkan, sejumlah negara, termasuk Jepang, Singapura, dan Malaysia, telah menawarkan bantuan kepada Indonesia. Meski demikian, pemerintah masih mendata bentuk bantuan yang tersedia sebelum menentukan kebutuhan yang akan dipenuhi melalui kerja sama tersebut.

“Ya sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita, saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi bantuan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alatnya tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka,” kata Kristomei.

Kristomei mencontohkan, Singapura telah mengirimkan surat penawaran bantuan yang mencakup masker, air minum, serta pesawat Hercules C-130. Namun, setiap tawaran akan dikaji berdasarkan kebutuhan penanganan karhutla dan kemampuan peralatan yang telah dimiliki Indonesia.

Menurutnya, bantuan berupa barang yang sudah tersedia di dalam negeri belum tentu menjadi kebutuhan utama. Pemerintah akan mempertimbangkan apakah bantuan tersebut benar-benar dapat menambah kapasitas penanganan di lapangan.

“Kalau kayak bantuan air minum, kan kita juga punya air minum, bantuan masker kita juga punya. Kita juga kepakai kok,” jelasnya.

Selain ketersediaan barang, BNPB turut mempertimbangkan aspek teknis dalam penggunaan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca. Salah satu hal yang diperhatikan adalah kapasitas angkut dry ice atau es kering yang digunakan dalam proses tersebut.

Kristomei menyebut pesawat Hercules memiliki keterbatasan dalam mengangkut dry ice karena faktor tekanan kabin. Ia menyampaikan kapasitas muatan dry ice pada pesawat tersebut sebesar 1,1 ton, sedangkan pesawat Cassa memiliki kapasitas sekitar 800 kilogram.

Perbedaan kapasitas angkut itu menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan jenis pesawat dan peralatan yang sesuai untuk mendukung operasi penanganan karhutla. BNPB akan menilai kebutuhan teknis tersebut agar bantuan yang diterima dapat digunakan secara optimal.

“Kalau memang kita butuh dan kita nggak punya, why not? Tapi kalau kita punya kenapa harus susah-susah minta,” ujar Kristomei.

Ia menegaskan, pemerintah tetap terbuka terhadap bantuan internasional. Namun, penerimaan bantuan akan disesuaikan dengan kebutuhan serta manfaatnya bagi upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

"Enggak masalah, nggak ada masalah kita terbuka kok dan memang sudah dibuka untuk kalau memang ada kita, kita sanggup kita ada bantuan dari luar ya kita terima, cuma kan kita lihat dulu bantuan itu apa dulu, gitu ya," pungkasnya.

Berita Terkait