Rupiah Kian Tertekan, Nilai Tukar Tembus Rp18.100 per Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp18.110 per dolar AS saat harga minyak Brent menyentuh US$115,28 per barel dan yield obligasi domestik naik.
fin.co.id - Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring tingginya harga minyak mentah Brent dan kenaikan yield obligasi domestik. Pada pembukaan pasar spot, Senin, 26 Oktober 2026, rupiah melemah 0,29% ke Rp18.110 per dolar AS, sebelum memangkas pelemahan menjadi 0,16% atau Rp18.085 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB.
Harga minyak Brent tercatat berada di level US$115,28 per barel. Sementara itu, di pasar luar negeri, rupiah masih bertahan di kisaran Rp18.118 per dolar AS di tengah tekanan sentimen eksternal dan domestik.
Indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melandai ke 101,63 seiring penurunan yield US Treasury menjadi 4,96% dari posisi pekan lalu. Namun, pergerakan tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan terhadap rupiah.
Rupiah Masuk Tiga Besar Mata Uang Asia yang Melemah
Pergerakan mata uang Asia menunjukkan penguatan yang terbatas. Won Korea Selatan memangkas penguatannya menjadi 0,06%, setelah sempat naik 0,71% pada pagi hari. Yen Jepang menguat 0,03%, sedangkan ringgit Malaysia naik 0,01%.
Baca Juga
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia bergerak di zona merah terhadap dolar AS. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,31%, disusul baht Thailand yang tergerus 0,19%. Rupiah berada di posisi ketiga dengan pelemahan 0,16%.
Dolar Hong Kong dan dolar Singapura juga melemah, masing-masing sebesar 0,02% dan 0,01%.
Yield Obligasi Naik, IHSG Berbalik Melemah
Pasar obligasi domestik belum memberikan dukungan yang cukup untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.11 WIB, sebagian besar tenor obligasi mencatat kenaikan yield.
Yield tenor acuan naik 1,2 basis poin menjadi 7,46%. Tenor 11 tahun mencatat kenaikan lebih besar, yakni 3,7 basis poin menjadi 7,45%. Sementara itu, yield tenor 5 tahun meningkat 3,6 basis poin menjadi 7,28%, dan tenor 4 tahun naik 1,2 basis poin menjadi 7,23%.
Baca Juga
Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat 0,06%, tetapi kemudian berbalik melemah 0,05% ke level 5.436,36.
Dengan tekanan dari harga minyak, sentimen pasar, dan kenaikan yield obligasi domestik, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan. Pergerakannya ditargetkan menuju Rp18.100 per dolar AS dan berpotensi menembus Rp18.150 per dolar AS.