Diiming-imingi Gaji Per Bulan Rp51 Juta, Eks TNI-Polri Tertipu Loker Tentara Bayaran Rusia
Polri mengungkap mantan TNI dan Polri menjadi korban TPPO berkedok lowongan kerja untuk direkrut sebagai tentara bayaran Rusia.
fin.co.id - Polri mengungkap praktik perekrutan tentara bayaran Rusia melalui tawaran pekerjaan di luar negeri telah menjerat berbagai kalangan, termasuk mantan anggota TNI dan Polri.
Para korban awalnya tidak diberi tahu bahwa pekerjaan yang mereka lamar berkaitan dengan medan perang, melainkan ditawari sejumlah pekerjaan lain, seperti tenaga logistik.
Direktur PPA-PPO Bareskrim Polri Brigjen Pol. Nurul Azizah mengatakan, perekrutan tersebut tidak hanya menyasar warga sipil.
“Untuk yang direkrut itu tidak hanya warga sipil, tapi juga ada eks TNI dan eks Polri,” katanya di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Baca Juga
Nurul menjelaskan, para korban tidak secara terang-terangan ditawari pekerjaan sebagai tentara bayaran. Pelaku menggunakan tawaran pekerjaan lain untuk menarik minat calon korban.
Berawal dari Iklan Lowongan Kerja di Media Sosial
Kasubdit 3 Dittipid PPA-PPO Bareskrim Polri Kombes Pol. Yolanda Evalyn Sebayang memaparkan pola perekrutan dalam laporan polisi (LP) yang ditangani Polres Bogor. Perkara tersebut melibatkan dua tersangka, satu orang dalam daftar pencarian orang (DPO), serta 22 korban.
Menurut Yolanda, pelaku memasang iklan di media sosial dengan menawarkan berbagai jenis pekerjaan di sejumlah negara. Tawaran tersebut juga disertai iming-iming gaji bernilai besar.
Orang yang mengisi tautan pendaftaran kemudian dihubungi dan dijemput oleh pelaku. Pada tahap itulah para korban baru mengetahui bahwa pekerjaan yang ditawarkan sebenarnya adalah menjadi tentara bayaran di Rusia.
“(Dijemput, red.) untuk ke titik tempat mereka diberitahukan bahwa pekerjaan yang ditawarkan sebenarnya adalah menjadi tentara bayaran di Rusia,” katanya.
Baca Juga
Jika menyetujui tawaran tersebut, korban diminta menandatangani perjanjian keberangkatan. Namun, mereka yang menolak atau meminta dipulangkan harus mengganti biaya transportasi menuju daerah asal masing-masing.
Yolanda pun mengingatkan masyarakat agar mewaspadai tawaran pekerjaan di luar negeri yang ternyata menjadi kedok perekrutan tentara bayaran Rusia.
Korban Hanya Dilatih Sebulan Sebelum Dikirim ke Medan Perang
Selain mengungkap cara perekrutan, Polri juga membeberkan perlakuan terhadap korban setelah tiba di Rusia. Mereka hanya menjalani tes kesehatan tanpa mempertimbangkan faktor usia. Jika dinyatakan sehat, korban langsung diminta menandatangani kontrak.
Setelah itu, mereka menjalani pelatihan selama satu bulan sebelum dikirim ke medan perang.