Politik

Jubir PDIP Ungkap Motif Listyo Sigit Dkk Menyadap HP Prabowo, Singgung Makar dan Kepentingan Geng Jokowi

Juru Bicara PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, melontarkan kritik keras terkait kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka.

Jubir PDIP Ungkap Motif Listyo Sigit Dkk Menyadap HP Prabowo, Singgung Makar dan Kepentingan Geng Jokowi
Eks Kapolri Listyo Sigit bersama dengan Wapres Gibran (ist)

fin.co.id – Juru Bicara PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, melontarkan kritik keras terkait kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka.

Guntur Romli menduga praktik penyadapan tersebut bukan sekadar pelanggaran prosedur oleh aparat kepolisian. Ia melihat adanya kemungkinan kepentingan politik yang lebih besar, termasuk dugaan upaya melemahkan pemerintahan Prabowo demi kepentingan kelompok yang dikaitkannya dengan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pandangan tersebut disampaikan Guntur Romli melalui sebuah video yang diunggah di akun X miliknya. Pernyataan itu dikutip pada Ahad, 8 November 2026.

Dalam video tersebut, Guntur Romli menilai dugaan penyadapan terhadap kepala negara merupakan persoalan serius yang harus diusut hingga ke pihak-pihak yang berada di baliknya.

Menurutnya, penyelidikan tidak cukup hanya mengungkap siapa yang melakukan penyadapan. Aparat juga harus mencari tahu tujuan pengumpulan informasi tersebut dan siapa yang diduga memperoleh keuntungan.

"Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menyadap, tapi untuk apa dan untuk siapa penyadapan itu, dan apa motifnya," tuturnya.

Guntur Romli kemudian menguraikan sejumlah kemungkinan motif di balik dugaan penyadapan tersebut. Salah satunya berkaitan dengan dugaan skenario menggulingkan Presiden Prabowo dari kursi kekuasaan.

Ia menilai, informasi pribadi dan komunikasi kepala negara yang diperoleh melalui penyadapan berpotensi digunakan sebagai alat untuk menekan atau melemahkan posisi politik presiden.

"Menyadap kepala negara sama dengan membuka jalan untuk menggulingkannya. Skenario yang santer dibicarakan sudah jelas. Gibran menggantikan Prabowo dalam dua tahun. Kalau tidak terjadi menggulingkan, minimal menyanderanya," katanya.

Guntur Romli berpendapat, apabila upaya mengganti presiden tidak berhasil dilakukan, informasi yang dikumpulkan melalui penyadapan bisa saja dimanfaatkan untuk membatasi ruang gerak Prabowo.

Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi ketika seorang presiden masih memegang jabatan secara formal, tetapi tidak sepenuhnya leluasa menjalankan kekuasaannya.

"Presiden dijadikan bebek lumpuh, berkuasa di atas kertas, tapi setiap langkahnya diintip dan setiap rahasianya digenggam pihak lain. Itulah motif pertama dari penyadapan," ujarnya.

Selain dugaan upaya menggulingkan pemerintahan, Guntur Romli juga menyoroti kemungkinan adanya kepentingan kelompok politik yang dikaitkannya dengan Jokowi.

Ia menyinggung posisi Listyo Sigit yang pernah menjabat sebagai Kapolri pada masa pemerintahan Jokowi. Guntur kemudian mempertanyakan mengapa pihak-pihak yang diduga menjadi sasaran penyadapan justru berasal dari luar lingkaran kelompok tersebut.

"Tersangka utamanya Listyo Sigit adalah Kapolri pilihan Jokowi. Lalu siapa yang disadap? orang-orang di luar lingkaran geng Jokowi," katanya.

Berita Terkait