Bursa Saham Emerging Market Anjlok Tajam, Investor Panik Lari ke Aset Aman

news.fin.co.id - 07/04/2025, 21:35 WIB

Bursa Saham Emerging Market Anjlok Tajam, Investor Panik Lari ke Aset Aman

Ilustrasi pergerakan IHSG

fin.co.id - Pasar keuangan global kembali diguncang. Bursa saham emerging market mengalami salah satu hari terburuknya sejak krisis keuangan global 2008. Aksi jual besar-besaran menyapu bersih keuntungan sepanjang tahun ini, didorong oleh meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok.

Indeks ekuitas utama untuk pasar negara berkembang, MSCI Emerging Markets, terjungkal hingga 8,4% pada Senin, 7 April 2025. Penurunan tajam ini menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak krisis global lebih dari satu dekade lalu. Tak hanya saham, tekanan juga menghantam mata uang dan obligasi negara-negara berkembang, memperlihatkan kepanikan investor yang mulai mencari perlindungan di aset-aset yang lebih aman.

"Ini adalah aksi jual tanpa pandang bulu," ujar Xin-Yao Ng dari Aberdeen Investments, menggambarkan kondisi pasar yang kehilangan arah, dilansir Bloomberg.

Ketegangan memuncak setelah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor baru yang dinilai bisa memperlambat laju ekonomi AS secara signifikan. Reaksi dari Tiongkok tak kalah keras: mereka membalas dengan tarif impor terhadap produk AS, yang langsung mengguncang bursa saham China, terutama di Hong Kong yang merosot hampir 14% dalam sehari.

Advertisement

Pelemahan pasar juga diperparah oleh langkah Bank Rakyat China yang menurunkan nilai tukar referensi yuan ke level terendah sejak Desember. Kebijakan ini memicu spekulasi bahwa Beijing sedang mempertimbangkan devaluasi yuan sebagai alat balasan terhadap tekanan dagang dari Washington.

Guncangan di China menyebar luas ke Asia. Bursa saham India, Taiwan, dan Malaysia mencatat koreksi tajam, masing-masing turun hingga 5%, 9%, dan 4%. Investor pun mulai menarik dana mereka dari bursa saham emerging market untuk ditempatkan di aset yang dinilai lebih stabil seperti obligasi pemerintah AS.

Rajeev De Mello dari Gama Asset Management mengingatkan bahwa meski tekanan saat ini berat, ada potensi pemulihan jika ketidakpastian mereda. “Dengan melemahnya dolar dan turunnya imbal hasil US Treasury, aset emerging market bisa mendapatkan angin segar, tapi kita perlu melihat tanda-tanda stabilisasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Sementara itu, mata uang dari negara berkembang juga ikut terpuruk. Rand Afrika Selatan dan peso Meksiko memimpin pelemahan, disusul oleh pound Mesir yang jatuh lebih dari 2% terhadap dolar—penurunan terbesarnya dalam setahun.

Dampaknya memaksa sejumlah bank sentral untuk turun tangan. Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi di pasar valuta asing luar negeri untuk menjaga kestabilan rupiah menjelang pembukaan kembali pasar domestik. Sementara itu, Nigeria dan Taiwan juga menjual dolar untuk mempertahankan nilai tukar mereka masing-masing.

Di sisi lain, pasar obligasi juga tak luput dari tekanan. Obligasi berbasis dolar dari Sri Lanka, Zambia, dan Pakistan mencatat kinerja terburuk. Namun, beberapa analis melihat peluang di obligasi lokal, terutama di Amerika Latin dan Eropa Tengah, di tengah arus penghindaran risiko yang kian membesar.

Indeks swap gagal bayar kredit (CDS) untuk pasar negara berkembang melonjak ke atas 215 basis poin, mencerminkan kecemasan yang terus meningkat di kalangan pelaku pasar.

Di tengah ketidakpastian yang membayangi, satu hal menjadi jelas: bursa saham emerging market tengah menghadapi ujian berat yang menuntut kewaspadaan ekstra dari investor global. (*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID