fin.co.id - Pergerakan mata uang emerging market (EM) Asia hari ini, Rabu, 23 April 2025, tercatat terbatas meski bursa saham regional menunjukkan tren penguatan. Penguatan saham dipicu oleh reli sektor teknologi global, sementara dolar AS perlahan bangkit sebagai respons terhadap ketegangan perdagangan yang belum mereda.
Di tengah kondisi tersebut, rupiah terpantau melemah tipis 0,09%, seiring Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan ini sudah sesuai ekspektasi pasar dan diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
“Meski indikator makro mengarah ke penurunan suku bunga, tekanan domestik dan eksternal menahan ruang pelonggaran. Pasar tampaknya menunggu kuartal ini untuk melihat arah kebijakan lebih lanjut,” jelas Radhika Rao, ekonom DBS, dikutip Reuters.
Sementara itu, bursa saham Asia justru bergerak lebih dinamis. Indeks utama Taiwan (TWII) melonjak 4,5%, menjadi pemimpin reli di kawasan. Saham-saham teknologi menjadi motor utama kenaikan ini, seiring sentimen positif dari Wall Street. Kenaikan ini juga dianggap sebagai pemulihan setelah tekanan akibat tarif tinggi dari AS sejak awal bulan.
Optimisme pasar turut didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meredakan kekhawatiran soal tarif tinggi dan campur tangan terhadap The Fed. Pernyataan ini turut memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan Asia.
Indeks saham di Singapura juga melaju, mencatatkan kenaikan ketujuh secara beruntun, sementara Malaysia, Filipina, dan Thailand turut menghijau dengan kenaikan antara 0,4% hingga 0,7%.
Adapun mata uang Asia lainnya seperti dolar Singapura dan dolar Taiwan stagnan, sementara baht Thailand menguat 0,11%. Di sisi lain, ringgit Malaysia dan peso Filipina mencatat koreksi tipis.
Secara keseluruhan, pasar menunjukkan pergeseran hati-hati menuju aset berisiko, meski bayang-bayang tensi perdagangan global masih menghantui pergerakan mata uang EM. (*)