fin.co.id - Transformasi komunikasi di lingkungan BUMN kini memasuki babak baru. Melalui Workshop Komunikasi dan Optimasi AI untuk Komunikasi Media Sosial yang digelar pada 13 Mei 2025 di Bali, Kementerian BUMN resmi mengakselerasi strategi komunikasi digital yang lebih inklusif dan adaptif.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi merupakan langkah strategis untuk memberdayakan seluruh pegawai BUMN agar tampil sebagai Brand Ambassador perusahaan, bukan hanya sekadar penonton.
“Komunikasi itu pentingnya bukan main. Perubahan pola komunikasi ini bertujuan agar semua BUMN, hingga cabang-cabangnya, aktif dalam komunikasi,” tegas Rachman Ferry, Kepala Biro Humas dan Fasilitasi Dukungan Strategis Kementerian BUMN, saat membuka acara, dikutip dari keterangan resmi, Selasa, 20 Mei 2025.
Desentralisasi Komunikasi Jadi Kunci
Rachman menyebut bahwa kekuatan komunikasi kini tidak hanya ada di tangan Humas, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama.
“BUMN punya potensi besar dalam komunikasi, dan yang paling efektif adalah model desentralisasi, agar pesan perusahaan tersampaikan secara merata hingga ke unit terkecil,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, setiap karyawan diharapkan mampu menyuarakan narasi positif tentang perusahaan mereka melalui media sosial pribadi maupun korporat.
AI dan Storytelling Jadi Senjata Baru
Workshop ini diikuti oleh tim komunikasi dan pengelola media sosial dari berbagai BUMN. Mereka mendapatkan pembekalan dalam beberapa materi krusial, seperti:
- Strategi storytelling digital yang kuat dan menggugah
- Teknik pembuatan konten berbasis AI
- Cara membentuk citra positif perusahaan lewat komunikasi personal
- Pemanfaatan media sosial untuk menyampaikan value dan capaian perusahaan
Hal ini menjadi relevan mengingat saat ini kita hidup di era yang disebut "Homeless Media", di mana informasi bisa menyebar dari siapa saja, tanpa batasan platform atau institusi formal.
Ciptakan Narasi Positif dari Pusat hingga Daerah
Kementerian BUMN menekankan bahwa setiap pegawai memegang peran strategis dalam menjaga dan membentuk reputasi perusahaan di mata publik.
“Setiap kata yang diunggah pegawai di media sosial itu bisa berdampak besar terhadap citra BUMN, positif maupun negatif,” jelas Rachman.
Oleh karena itu, pelatihan seperti ini menjadi penting agar semua elemen dalam perusahaan sadar akan perannya, sekaligus mampu menciptakan narasi yang transparan, otentik, dan terintegrasi.