Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Terburuk Akibat Dampak Perang Iran-Israel

news.fin.co.id - 26/06/2025, 16:21 WIB

Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Terburuk Akibat Dampak Perang Iran-Israel

Politikus PDIP Aria Bima.

fin.co.id - Pemerintah diminta menyiapkan skenario terburuk terkait dengan adanya perang Iran-Israel. Hal itu disampaikan oleh Politikus PDIP Aria Bima.

Sebab, kata dia, kondisi keuangan Indonesia juga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Menurut dia, pemerintah harus mengamankan kebutuhan pangan.

"Kondisi keuangan kita, likuiditas kita juga tidak dalam baik-baik saja. Soalnya antisipasinya harus seperti apa? Kalau saya yang pertama pangan amankan dulu, udah. Pangan amankan dulu dunia ini mau ribut, mau gunjing, kita mau kurang BBM atau apapun, yang penting pangan aman, dalam artian ketersediaan dan keterjangkauan. Terutama ketergantungan pangan kita dengan pangan impor, bagaimana dengan gandum, bagaimana dengan kedelai, kedelai ini adalah kebutuhan rakyat," kata Aria Bima di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 26 Juni 2025.

"Jadi stok, buffer stok saat ini kalau bisa dipercepat, dipercepat dulu. Ini penting strategi mensikapi keadaan situasi kondisi global yang mana kita jujur sudah tidak mandiri lagi. Sektor pangan kita enggak mandiri, sektor energi kita enggak mandiri, sektor keuangan tergantung fiskal kita juga dari utang kita berapa," sambungnya.

Advertisement

Dia berharap pemerintah bisa membuat planning untuk menjaga dan mengantisipasi terjadinya dampak buruk akibat dari perang antara Iran vs Israel yang melibatkan sejumlah negara-negara di barat.

"Jadi saya berharap yang penting kalau situasi politik nasional kita relatif cukup kuat Pak Prabowo ini mengendalikan situasi, apalagi di DPR, sudah sangat mungkin. Tapi sekali lagi ini perlu planning-planning skenario," imbuhnya.

Dia mencontohkan skenario tersebut seperti penutupan Selat Hormuz akibat adanya perang Iran-Israel.

"Skenario satu dalam keadaan Selat Hormuz ditutup skenario itu, dan konflik Israel-Iran panjang bersama dengan Amerika dan proxy-proxy-nya," tuturnya.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini mengatakan, skenario tersebut berlaku untuk jangka panjang.

"Skenario perang panjang Selat Hormuz buka-tutup, seperti apa? kondisi yang ada. Jadi plan A, plan B, plan C bagaimana kita membangun komitmen-komitmen dalam menyelesaikan skenario ini dengan berbagai negara yang masih bisa kita akses, khususnya di Asia dan Asia misalnya. Ini yang saya kira penting," bebernya.

Ia menambahkan pemerintah harus dapat menjaga stabilitas dan ketersediaan pangan, kemudian kebijakan strategi ekonomi di sektor pangan sebagai dampak dari perang. Contohnya, mengubah bahan pangan dengan yang lebih ekonomis dan strategis.

"Ketersediaan pangan itu karena yang utama, maka bagaimana kebijakan strategi, ketersediaan ini harus kita atasi, misalnya memperbanyak pakanan pengganti beras dan tempe misalnya. Dan gandum misalnya dengan mie berbasis beras seperti bihun, harus ada. Gak bisa kita hanya satu skenario yang itu bisa meleset, karena unpredictable," tuturnya.

(Anisha Aprilia)

Advertisement
Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID