fin.co.id - Pemerintah Indonesia tengah memacu lahirnya generasi unggul dari keluarga miskin lewat program ambisius bertajuk Sekolah Rakyat. Program ini resmi dijalankan sejak 14 Juli 2025 dan mendapat suntikan anggaran fantastis senilai Rp200 miliar. Bukan sekadar proyek infrastruktur, dana tersebut dipastikan akan membiayai operasional sekolah selama setahun penuh guna memastikan kualitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin.
Siapa yang Mengungkap Program Sekolah Rakyat?
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menjadi sosok yang membeberkan berbagai detail program Sekolah Rakyat. Dalam keterangan persnya kepada wartawan pada Rabu, 16 Juli 2025, Agus menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai langkah konkret pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan hanya sekolah biasa, tetapi menjadi alat transformasi sosial yang menyasar anak-anak paling rentan secara ekonomi.
“Anggaran yang disiapkan pemerintah sekitar Rp200 miliar. Tapi itu bukan hanya untuk pembangunan, tapi juga untuk kebutuhan operasional sekolah selama setahun,” jelas Agus.
Berapa Besar Anggaran Per Siswa?
Pemerintah mengalokasikan biaya pendidikan yang cukup besar dalam program Sekolah Rakyat. Agus menyebut, setiap siswa akan memperoleh dukungan anggaran sekitar Rp48 juta per tahun. Anggaran tersebut mencakup seluruh kebutuhan proses belajar-mengajar, termasuk sarana, prasarana, hingga pemanfaatan teknologi pendidikan.
“Kalau kita detailkan, kurang lebih untuk tiap siswa itu pertahunnya anggarannya Rp48 juta lebih. Itu mencakup kebutuhan-kebutuhan dalam proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat,” ungkap Agus.
Apa yang Membuat Sekolah Rakyat Berbeda?
Salah satu terobosan yang menjadi sorotan adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pemetaan bakat (talent mapping) siswa. Sejak awal, anak-anak yang terpilih akan dipetakan potensi, minat, dan bakatnya melalui teknologi AI. Langkah ini diharapkan membuat pola pendidikan lebih personal dan tepat sasaran, sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing individu.
“Kita menggunakan teknologi AI untuk mendata anak-anak itu menurut bakatnya masing-masing,” kata Agus. Pendekatan ini dinilai sebagai inovasi penting agar anak-anak dari keluarga miskin tidak hanya mengenyam pendidikan standar, tetapi juga dapat dikembangkan sesuai potensi terbaik mereka.
Siapa Saja yang Bisa Masuk Sekolah Rakyat?
Sekolah Rakyat secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga paling miskin. Kriteria penerimaan mengacu pada Data Tunggal Kesejahteraan Sosial Ekonomi Nasional, tepatnya mereka yang berada di desil satu atau lapisan ekonomi terbawah. Proses seleksi dilakukan secara ketat oleh tim gabungan yang melibatkan Kementerian Sosial, Dinas Sosial, BPS, Program Keluarga Harapan (PKH), kepala desa, serta diverifikasi oleh pemerintah daerah setempat.
“Semua harus masuk data dulu. Mereka harus berada di desil satu, dan hasil rekrutmen ini harus didetailkan oleh bupati atau wali kota,” jelas Agus.
Di Mana Lokasi Sekolah Rakyat Berjalan?
Sampai saat ini, percobaan program Sekolah Rakyat telah berjalan di 63 titik yang sudah memulai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pemerintah menargetkan total 100 sekolah rintisan beroperasi di seluruh Indonesia hingga akhir Juli 2025. Seluruh lokasi dipilih berdasarkan kebutuhan daerah, dengan memprioritaskan wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi.