Ekonomi . 28/07/2025, 16:34 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Keputusan bank sentral, terutama The Fed, soal suku bunga juga berdampak besar pada harga emas. Saat suku bunga rendah, aset berbunga seperti obligasi menjadi kurang menarik, dan investor beralih ke emas. Akibatnya, harga emas cenderung naik.
Saat inflasi tinggi, daya beli uang menurun. Untuk menjaga nilai kekayaan, banyak orang memilih emas. Karena nilainya tidak mudah tergerus inflasi, emas sering jadi alternatif yang lebih aman saat harga-harga barang naik.
Harga emas dunia dikutip dalam dolar AS. Jadi, perubahan nilai tukar mata uang ini otomatis memengaruhi harga emas dalam mata uang lain, termasuk rupiah. Saat dolar menguat, harga emas dalam rupiah bisa ikut naik, dan sebaliknya.
Dalam dunia investasi, strategi “buy low, sell high” memang ideal. Tapi untuk emas, waktu terbaik untuk mulai adalah ketika kamu memiliki dana yang cukup. Emas ideal sebagai investasi jangka panjang karena kenaikannya terasa setelah lima hingga sepuluh tahun.
Berdasarkan data harga emas dari aplikasi neobank pada 24 Juli 2025, harga beli emas digital tercatat Rp1.820.000 per gram, sedangkan harga jualnya Rp1.776.000 per gram. Investor perlu memperhatikan selisih harga beli dan jual ini sebagai bagian dari strategi investasi.
Alih-alih menunggu waktu terbaik, banyak investor memilih strategi dollar-cost averaging: membeli emas secara rutin dengan nominal tetap. Cara ini bisa mengurangi risiko beli di harga tinggi dan memperbesar potensi keuntungan jangka panjang. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media