fin.co.id – Kericuhan yang terjadi pada 28–30 Agustus 2025 masih menyisakan luka bagi warga sekitar Kwitang, Jakarta Pusat. Salah satunya dirasakan Linda (50), pemilik warung pecel lele yang berada tepat di depan Mako Brimob Polda Metro Jaya. Hingga kini, ia belum bisa kembali berjualan karena warungnya porak poranda akibat aksi anarkis massa.
Linda berharap Presiden Prabowo Subianto turun langsung melihat kondisi warga yang terdampak.
"Saya sih berharap pemerintah tahu keadaan rakyat yang kena dampak seperti ini. Istilahnya adalah simpatinya sama kami," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, Senin, 1 September 2025.
Warung sederhana miliknya habis dijarah. Etalase raib, meja dan bangku hancur, peralatan memasak pun digondol massa, hanya tersisa spanduk lusuh. Warkop di sebelahnya bahkan lebih parah, kulkas diseret keluar lalu dihancurkan, dibakar hingga rata dengan tanah.
"Saya terus terang aja, warung udah ancuran-ancuran. Ini aja yang tersisa karena kami jaga. Dijaga aja masih kecolongan. Bangku hancur, warung sebelah malah lebih parah, semua gelas dan piring hilang," tuturnya.
Kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai Rp15 juta, bahkan bisa lebih. Namun yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana bisa kembali berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kerugian itu mungkin juga belum komplit. Kami cuma kepingin jualan lagi, tapi modal nggak ada. Nggak cukup satu juta atau dua juta, karena semua dijarah," jelas Linda.
Menurutnya, massa tidak berani membakar warung warga karena dijaga ketat, tetapi mereka melampiaskan aksi dengan merusak halte Kwitang hingga membakar gedung Astra Credit Companies (ACC) menggunakan bom molotov.
"Bakarnya itu pakai bom Molotov. Udah disiapin, tinggal dilempar-lempar dari tas," ungkapnya.
Linda menduga banyak pelajar yang terlibat dalam aksi ricuh tersebut. Mereka datang berkelompok menggunakan truk dan berkumpul di flyover Senen sebelum menuju Mako Brimob.
"Terutama itu STM ya, anak-anak baru gede, yang paling beringas. Kalau ojol asli, saya lihat nggak," katanya.
Ia menilai kericuhan kemarin sudah jauh melampaui batas penyampaian aspirasi, karena disertai dengan penjarahan.
"Kulkas kami dibuka-bukain, bahkan sempat ada yang nenteng tabung gas. Untung kami jaga jadi ditaruh lagi. Jadi ini nggak cuma demo, tapi ada yang memang niatnya jarah," pungkasnya.
(Candra Pratama)