fin.co.id - Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), Muhammad Husein menegaskan, pelayaran para relawan asal Indonesia menuju Jalur Gaza merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang sepenuhnya tanpa kekerasan. Ia mengingatkan seluruh relawan untuk menaati arahan yang diberikan oleh penyelenggara Global Sumud Flotilla (GSF) selama sesi pelatihan intensif selama dua hari.
"Hati-hati dan hindari narasi-narasi di media sosial yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan panitia. Sebab, misi kita adalah misi tanpa kekerasan (non violence)," ujar Husein saat memberikan arahan di Gedung Serikat Buruh Tunisia seperti dikutip dari keterangannya, Rabu, 3 September 2025.
Husein menyampaikan bahwa keberangkatan konvoi dijadwalkan pada Sabtu, 6 September 2025, dari wilayah Tunisia. Sebanyak 30 relawan dari Indonesia akan dibagi ke dalam dua kapal, meski ia belum mengungkapkan secara terbuka titik pelabuhan keberangkatan.
"Lokasi kapal dan pelabuhan masih dirahasiakan oleh panitia," ujarnya.
Lebih lanjut, Husein menekankan, keselamatan seluruh peserta konvoi dari 44 negara, yang akan menumpangi 65 kapal, menjadi prioritas utama bagi penyelenggara.
Konvoi kemanusiaan ini pun mendapat dukungan luas, terutama dari komunitas serikat buruh internasional. Menurut Husein, dukungan paling mencolok datang dari serikat buruh Italia, yang telah menyampaikan sikap tegas mereka terhadap potensi ancaman terhadap konvoi.
"Bahkan serikat buruh Italia sudah menegaskan, jika ada satu kapal konvoi GSF yang hilang kontak selama 20 menit, maka mereka akan melakukan mogok massal di pelabuhan-pelabuhan besar Eropa yang menjadi jalur utama perdagangan dengan Israel. Terutama pelabuhan di Genoa, Italia," ungkap Husein.
Aksi mogok ini dinilai Husein dapat menjadi tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi Israel, terlebih setelah muncul pernyataan keras dari Menteri Pertahanan Israel, Gitmar, yang menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal-kapal konvoi yang mencoba memasuki perairan Gaza.