fin.co.id – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah segera menyelesaikan persoalan beras yang masih menjadi beban bagi masyarakat.
Seruan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Pelanggan Nasional 2025, Jumat, 5 September 2025.
Ketua YLKI, Niti Emiliana, menilai tingginya harga beras di pasar cukup mengherankan, terlebih setelah pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa pasokan beras nasional dalam kondisi aman dan berlimpah.
“Jika benar stok beras melimpah, seharusnya tidak hanya tersimpan di gudang atau di tingkat produsen, tetapi juga bisa dijumpai langsung di pasar dengan mutu yang layak dan harga yang wajar,” ujarnya kepada Disway Group Sabtu, 6 September 2025.
Catatan YLKI soal Polemik Beras
Dalam rilis resminya, YLKI menyampaikan beberapa catatan kritis terkait kondisi beras saat ini:
Distribusi belum merata. Persediaan yang menumpuk di gudang tidak otomatis menjamin akses konsumen. Beras harus hadir di pasar agar mudah diperoleh masyarakat.
Harga di ritel modern melonjak. Konsumen banyak yang terkecoh karena yang tersedia bukan beras premium biasa, melainkan beras fortifikasi dengan harga Rp90–130 ribu per 5 kg. Jenis ini tidak memiliki aturan Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga sulit diawasi.
Pasar tradisional ikut terimbas. Walau kenaikan harga tidak sebesar di ritel modern, masyarakat tetap merasakan beban tambahan. Kondisi ini perlu diwaspadai agar tidak memicu kelangkaan maupun lonjakan harga lebih jauh.
Hak konsumen harus terlindungi. YLKI mendesak pemerintah memastikan ketersediaan beras di pasaran dengan harga terjangkau dan kualitas yang terstandar.
(Rafi Adhi)