Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana 29-30 September 2025 di Tanah Air

news.fin.co.id - 30/09/2025, 11:03 WIB

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana 29-30 September 2025 di Tanah Air

Tim BPBD Kabupaten Malang bersama PMI dan warga menangani pohon yang roboh menimpa rumah dan menghalangi jalan usai dihantam hujan deras disertai angin kencang di Desa Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (29/9). BPBD Kabupaten Malang.

Untuk aktivitas vulkanik, Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, NTT, masih berstatus Tanggap Darurat dengan 823 KK atau 3.177 jiwa mengungsi. Namun, tingkat aktivitas gunung telah diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga) pada 29 September 2025.

Sementara itu, gempa bumi yang mengguncang Jawa Timur dan Bali pada 26 September 2025 berdampak pada 110 KK atau 550 jiwa. BPBD bersama BNPB terus melakukan pemulihan, termasuk pendirian tenda keluarga dan kegiatan trauma healing bagi warga terdampak.

Upaya BNPB

BNPB melalui Kedeputian Bidang Penanganan Darurat terus mendampingi daerah berstatus darurat, termasuk di provinsi-provinsi yang terdampak karhutla, kekeringan, gempa bumi, dan erupsi gunung api.

Advertisement

Pemerintah daerah dan BPBD juga bergerak cepat dalam pembersihan material bencana, pemadaman karhutla, distribusi air bersih, hingga evakuasi warga. BNPB mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi dari instansi terkait dan pemerintah daerah sebagai acuan tindakan kesiapsiagaan.

Waspada Potensi Bencana dari Peralihan Musim dan Dinamika Atmosfer

Sebagaimana yang telah disebutkan dari hasil rangkuman kejadian bencana terbaru dalam beberapa hari terakhir, beberapa wilayah Indonesia khususnya Pulau Jawa bagian tengah dan timur hingga Bengkulu mengalami fenomena cuaca ekstrem yang menjadi salah satu tanda masuknya fase peralihan musim kemarau ke musim hujan (pancaroba).

Masa peralihan ini ditandai dengan hujan intensitas tinggi yang datang tiba-tiba, disertai petir, angin kencang, dan potensi puting beliung. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur akibat angin kencang.

Menurut prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memasuki pekan terakhir bulan September hingga awal Oktober, wilayah selatan Indonesia berada pada masa peralihan atau periode transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Selama periode ini, hujan disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat pada skala lokal umumnya terjadi saat siang menjelang sore hingga malam hari, didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

Selain itu, faktor dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal turut memberikan kontribusi terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan. Aktivitas atmosfer tersebut juga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat lebat.

Disisi lain, Siklon Tropis “BUALOI” diprediksi berada di sekitar Laut Cina Selatan, dengan pergerakan ke arah Barat – Barat Laut. Siklon tropis tersebut membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) di Laut Cina Selatan, Perairan selatan Filipina, dan Samudra Pasifik Utara Maluku Utara hingga Papua. Siklon ini memberikan dampak tidak langsung berupa hujan sedang – lebat di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.

Faktor lain yang turut mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia adalah adanya daerah perlambatan dan pertemuan angin yang terpantau memanjang dari Pesisir Barat Bengkulu hingga barat Sumatra Barat, dari Laut Natuna Utara hingga Laut Cina Selatan, dari pesisir utara Jawa timur hingga Jawa Tengah, dari pesisir Timur Kalimantan Selatan hingga Kalimantan utara, dari NTT hingga NTB di Laut Banda, dari Laut Maluku hingga Gorontalo dan dari Papua hingga Papua Barat Daya, Laut Andaman, Laut Halmahera, dan Samudra Pasifik Utara Papua.

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah perlambatan dan pertemuan angin tersebut. Kondisi atmosfer pada skala lokal juga mendukung peningkatan potensi hujan. Labilitas atmosfer yang relatif kuat serta kelembaban udara yang basah menjadi pemicu terbentuknya awan konvektif di beberapa wilayah Indonesia.

Mencermati adanya beberapa fenomena di atas, BNPB mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti memangkas dahan pohon rawan tumbang, memperkuat atap dan struktur rumah, membersihkan saluran air agar tidak tersumbat, serta memantau prakiraan cuaca dari lembaga terkait. Pemerintah daerah bersama BPBD diharapkan dapat memastikan kesiapan sarana prasarana, mulai dari jalur evakuasi hingga lokasi pengungsian, sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Khanif Lutfi
Khanif Lutfi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID