Menkomdigi Meutya Hafid: AI Jadi Peluang Besar, Bukan Ancaman bagi Tenaga Kerja

news.fin.co.id - 25/10/2025, 14:28 WIB

Menkomdigi Meutya Hafid: AI Jadi Peluang Besar, Bukan Ancaman bagi Tenaga Kerja

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto: Ist

fin.co.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menegaskan, teknologi ini seharusnya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sebagai ancaman terhadap lapangan kerja.

“Memang ada prediksi bahwa sekitar 85 juta pekerjaan akan digantikan oleh AI pada 2025. Namun di sisi lain, teknologi ini juga berpotensi menciptakan hingga 90 juta jenis pekerjaan baru di berbagai sektor. Jadi, AI memang perlu diantisipasi, tapi tidak untuk ditakuti,” kata Meutya dalam keterangannya, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Menurutnya, Indonesia termasuk negara yang paling optimistis dalam menyambut kemajuan teknologi AI. Masyarakat dinilai semakin siap dan terbuka terhadap adopsi teknologi baru tanpa rasa khawatir yang berlebihan.

“Dari sejumlah survei, Indonesia menempati posisi tinggi dalam hal kesiapan menghadapi AI. Kita tidak takut, dan itu pertanda positif,” tuturnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Meutya menekankan bahwa pendekatan terhadap AI harus berorientasi pada pemberdayaan manusia, bukan menggantikan perannya.

“Kita perlu melihat AI dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya sekadar soal data atau algoritma, melainkan bagaimana teknologi ini dapat digunakan untuk memperkuat potensi manusia,” jelasnya.

Pemerintah, lanjut Meutya, kini tengah menyusun Peta Jalan Nasional AI sebagai panduan strategis lintas sektor. Dokumen kebijakan tersebut akan menjadi dasar pengembangan dan penerapan AI di Indonesia secara komprehensif.

“Insyaallah pada awal 2026, Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional dapat diterbitkan dan menjadi pedoman bersama,” katanya.

Selain menyiapkan regulasi, pemerintah juga fokus memastikan pemerataan akses digital agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari kemajuan AI.

“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana membuat AI menjadi teknologi yang inklusif. Saat ini kami juga telah melelang frekuensi 1,4 GHz untuk menghadirkan konektivitas internet yang lebih terjangkau dan merata,” ungkap Meutya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam mengarahkan perkembangan AI di Indonesia.

“Jika dimanfaatkan dengan bijak, AI akan membawa banyak manfaat. Demokratisasi teknologi menuntut tanggung jawab bersama, dan kita semua memiliki peran penting dalam menentukan ke mana arah perkembangan AI ke depan,” pungkasnya.

(Ayu Novita)

Advertisement
Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID