Ekonomi . 30/10/2025, 10:14 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Dari sisi risiko, BRI mampu menjaga kualitas kredit tetap sehat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross tercatat di level 3,29%, sedangkan NPL net berada di 1,04%. Angka ini menunjukkan pengelolaan risiko yang hati-hati dan efektivitas strategi restrukturisasi kredit.
“Kami tetap disiplin dalam menjaga kualitas aset. Strategi pengawasan kredit dan digitalisasi proses pembiayaan membantu kami menjaga NPL di level yang aman,” tambah Hery.
Hery juga menyoroti kondisi makro ekonomi Indonesia yang menunjukkan tren positif. Ia menilai kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten menjadi faktor penting di balik stabilitas industri perbankan nasional.
Bank Indonesia (BI) sendiri terus menunjukkan arah kebijakan yang akomodatif, termasuk pemangkasan suku bunga acuan bertahap hingga 4,75% pada 2025. “Kondisi makro ekonomi domestik menunjukkan tren pertumbuhan yang baik dengan laju yang stabil,” kata Hery.
Menurutnya, kebijakan BI tersebut turut memperkuat daya dorong pertumbuhan kredit dan menjaga likuiditas perbankan di level yang sehat. “Kinerja industri perbankan nasional juga terlihat solid, dengan pertumbuhan aset 6,43% yoy, kredit 7,6% yoy, dan DPK meningkat 8,5% yoy,” jelasnya.
Melihat pencapaian hingga kuartal III 2025, BRI optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan di sisa tahun berjalan. Bank ini akan tetap fokus memperkuat pembiayaan di sektor produktif, khususnya UMKM dan mikro, yang menjadi fondasi ekonomi nasional.
“Kami ingin memastikan BRI tetap menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Ke depan, strategi kami tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkas Hery. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media