fin.co.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang melalui UPTD Puskesmas Gunung Kaler tancap gas berantas Tuberkulosis (TB). Gebrakan terbaru dilakukan di Pondok Pesantren An Nabilah melalui program Active Case Finding (ACF) TB Paru.
Tujuannya? Mendeteksi penyakit TB sejak dini khususnya di lingkungan pesantren. Sebab, interaksi para santri di lingkungan ponpes cukup tinggi sehingga mereka dianggap rentan tertular penyakit yang menyerang paru tersebut.
Dari pantauan, para santri dan pengasuh pondok antusias mengikuti penyuluhan tentang penyakit TB. Tim kesehatan Puskesmas dengan sigap memberikan informasi penting mulai dari cara pencegahannya, mengenali gejalanya, dan pentingnya deteksi dini.
Usai penyuluhan, tim kesehatan langsung bergerak cepat. Skrining gejala TB dilakukan kepada seluruh peserta. Bagi yang terindikasi, langsung diperiksa dahak dan rontgen dada untuk memastikan apakah benar terkena TB.
Kepala UPTD Puskesmas Gunung Kaler, dr. Ahmad Sobari, menegaskan bahwa skrining Tuberkulosis di lingkungan Ponpes ini tidak lain untuk memberantas TB hingga ke akar-akarnya.
"Pesantren itu komunitas yang interaksinya tinggi, jadi deteksi dini perlu dilakukan. Kami ingin menemukan kasus TB secepat mungkin dan mencegah penularan yang lebih luas," ujarnya, Jumat 31 Desember 2025.
Tidak hanya pemeriksaan, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi bagi seluruh warga pondok pesantren.
Para santri juga diajak untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular.
"Kegiatan ini akan terus dilakukan. Targetnya eliminasi TB tahun 2030 harus tercapai," imbuhnya.
Dengan kegiatan ACF TB Paru di Pondok Pesantren ini, diharapkan kasus TB bisa ditemukan lebih cepat sehingga rantai penularan bisa segera diputus.
"Sehingga kesadaran masyarakat pesantren tentang pencegahan serta pengobatan TB semakin meningkat," tandasnya.