KPK Telusuri Dugaan Penyelewengan Lahan dan Mark Up dalam Proyek Kereta Cepat Whoosh

news.fin.co.id - 11/11/2025, 18:07 WIB

KPK Telusuri Dugaan Penyelewengan Lahan dan Mark Up dalam Proyek Kereta Cepat Whoosh

Kereta Cepat Bandung Jakarta, Whoosh

fin.co.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menyelidiki dugaan adanya praktik curang yang menyebabkan kerugian negara dalam proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).

Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu mengungkapkan, penyidik menemukan indikasi adanya pihak-pihak yang menjual kembali aset milik negara kepada negara dalam proses pengadaan lahan proyek tersebut.

“Ada oknum-oknum di mana dia, yang bersangkutan itu, yang seharusnya ini milik negara tapi dijual lagi ke negara,” ujar Asep kepada wartawan, Selasa, 11 November 2025.

Asep menegaskan, fokus penyelidikan bukan pada proyek Whoosh secara keseluruhan, melainkan pada dugaan pelanggaran dalam pengadaan tanah yang semestinya dapat dilakukan dengan biaya lebih efisien.

Advertisement

“Jadi kami tidak sedang mempermasalahkan Whoosh itu, tapi kami dengan laporan yang ada ini adalah ada barang milik negara yang dijual kembali kepada negara dalam pengadaan tanahnya ini,” lanjutnya.

Ia menambahkan, praktik tersebut jelas merugikan keuangan negara. Namun, KPK masih mendalami pihak-pihak yang terlibat dan lokasi lahan yang bermasalah.

“Nah, terkait yang mana pembebasan lahannya, apakah yang di Halim ataukah yang di Bandung itu (wilayannya, red) Tegalluar nanti kita sama-sama tunggu,” tegas Asep.

Diketahui, KPK telah memulai penyelidikan kasus dugaan penggelembungan dana (mark up) proyek kereta cepat sejak awal 2025.

“Saat ini sudah pada tahap penyelidikan,” kata Asep pada 27 Oktober 2025.

Ia menjelaskan, proses penyelidikan dilakukan secara tertutup sesuai prosedur internal lembaga antirasuah tersebut.

Isu dugaan mark up ini sebelumnya juga disoroti mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Dalam unggahan di kanal YouTube-nya, Mahfud menyoroti perbedaan mencolok dalam biaya pembangunan per kilometer antara perhitungan Indonesia dan Tiongkok.

“Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Tapi di China sendiri hitungannya 17 sampai 18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat kan,” ujar Mahfud.

Advertisement

Mahfud juga menyinggung beban utang proyek Whoosh yang mencapai sekitar Rp4 triliun pada 2025. Ia menjelaskan, hal itu dipicu perubahan skema pembiayaan dari tawaran Jepang dengan bunga 0,1 persen ke pinjaman Tiongkok yang awalnya berbunga 2 persen lalu naik menjadi 3,4 persen akibat cost overrun.

Meski demikian, biaya pembangunan Whoosh sebesar Rp780 miliar per kilometer dinilai masih lebih rendah dibanding proyek MRT Jakarta yang menelan Rp1,1 triliun per kilometer.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID