fin.co.id – Sepanjang tahun 2024, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat tingginya paparan masyarakat terhadap upaya penipuan digital. Mayoritas pengguna seluler diketahui menerima SMS, telepon, atau pesan bermuatan scam sedikitnya sekali dalam seminggu.
Informasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal Ekosistem Digital, Edwin Hidayat Abdullah, dalam kegiatan Ngopi Bareng di Kantor Komdigi.
"Di 2024 itu mengatakan bahwa 65 persen pengguna seluler itu menerima SMS, telepon, atau pesan scam itu satu minggu sekali minimum," kata Edwin kepada wartawan, Jumat, 14 November 2025.
Edwin mengungkapkan bahwa meski banyak korban telah melapor, masih terdapat sejumlah masyarakat yang memilih tidak menyampaikan laporan ketika mengalami insiden penipuan digital.
Dampak dari tingginya aktivitas scam tersebut juga menimbulkan kerugian besar. Hingga Oktober tahun ini, nilai kerugian yang dilaporkan telah mencapai angka fantastis.
"Tapi so far tahun ini aja, yang sudah mereport terjadinya loss dan scam ini sampai Oktober itu 7 triliun. Bayangkan 7 triliun. Ini menimbulkan kekhawatiran ya," tuturnya.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk periode November 2024 hingga Oktober 2025, Edwin menyebutkan terdapat 125.217 laporan yang masuk ke Indonesia Anti-Scam Center.
Selain itu, 171.791 korban melapor melalui penyelenggara jasa keuangan atau langsung ke pihak perbankan. Secara total, 483.695 rekening dilaporkan terlibat, dan 93.819 rekening telah diblokir.
"Banyak sekali. Total kerugian 7 triliun dan 367,5 miliar yang berhasil dikembalikan," paparnya.
Edwin menambahkan bahwa tingkat keberhasilan pemulihan dana korban masih sangat rendah.
"Jadi kalau duit kita sudah kena scam, probability untuk kembalinya itu berhasil selama ini cuma 5,4 persen," lanjut Edwin.
(Ayu Novita)