fin.co.id - Enam pria asal Makassar yang bekerja di proyek saluran air Kabupaten Bone mengalami nasib mengejutkan. Mereka mengaku tidak menerima gaji dari bos proyek mereka, Kamaruddin, sehingga harus menghadapi dilema, bertahan tanpa upah atau pulang tanpa biaya transportasi. Akhirnya, pada Senin, 17 November 2025, mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju Makassar.
Perjalanan itu jelas bukan hal mudah. Menempuh ratusan kilometer dengan kondisi kelelahan fisik dan mental, para pekerja ini menunjukkan tekad luar biasa demi pulang ke kampung halaman. Jalan kaki menjadi satu-satunya opsi karena mereka tidak memiliki ongkos transportasi.
Nasib baik kemudian berpihak pada mereka. Saat melewati perjalanan yang melelahkan, rombongan pekerja bertemu dengan Anggota DPRD Bone, A. M. Salam atau yang akrab disapa Lilo AK. Kebetulan melintas di lokasi, Lilo AK langsung turun tangan. Ia membawa keenam pekerja itu ke tempat aman dan memfasilitasi kebutuhan mereka, mulai dari makan hingga akomodasi sementara.
Tindakan cepat dan peduli dari Lilo AK ini tentu menjadi angin segar bagi para pekerja. Jika tidak, mereka harus melanjutkan perjalanan jauh dalam kondisi lelah dan tidak ada jaminan keselamatan. Kejadian ini menyoroti masalah klasik dalam proyek pembangunan, yakni ketidakpastian pembayaran upah pekerja.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari bos proyek, Kamaruddin, terkait alasan tidak dibayarnya upah keenam pekerja tersebut. Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai hak pekerja dan tanggung jawab pengelola proyek. Pembayaran upah pekerja bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga hak dasar yang harus dipenuhi demi menjaga kesejahteraan dan keamanan mereka.
Kejadian di Bone ini mengingatkan bahwa meski proyek pembangunan berjalan lancar, isu internal seperti keterlambatan atau tidak dibayarnya gaji pekerja tetap bisa muncul dan berdampak serius. Bagi pekerja, kejadian ini menjadi pelajaran penting, selalu pastikan ada kontrak jelas dan jalur komunikasi yang aman dengan pihak pemberi kerja.