Internasional . 19/11/2025, 20:19 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Jepang untuk Urusan Asia-Pasifik, Masaaki Kanai, telah tiba di China pada Senin 17 November 2025.
Kanai dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan pejabat senior Kemenlu China, Liu Jinsong, untuk meredakan ketegangan.
Namun, Beijing menyampaikan bahwa Perdana Menteri Li Qiang tidak berencana bertemu Takaichi di sela-sela KTT G20, sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap komentar kontroversial tersebut.
China Tangguhkan Penayangan Film Jepang
Dampak diplomatik mulai terasa pada sektor budaya. Dua distributor film besar di China menangguhkan perilisan dua film Jepang, di antaranya:
Crayon Shin-chan the Movie: Super Hot! Scorching Kasukabe Dancers
Cells at Work! versi live-action
Media pemerintah China, CCTV, menyatakan kebijakan ini “tepat dan bijaksana” mengingat sentimen publik terhadap Jepang sedang memburuk.
Distributor film menilai bahwa pernyataan PM Takaichi akan mempengaruhi persepsi penonton terhadap karya Jepang. Karena itu, mereka memilih menunda rilis hingga situasi kembali kondusif.
Selain sektor budaya dan pariwisata, ketegangan ini juga berpotensi mengguncang rantai pasokan industri Jepang.
China merupakan salah satu pemasok utama mineral penting untuk berbagai sektor Jepang, mulai dari elektronik hingga otomotif.
Namun pemerintah Jepang memastikan bahwa:
Belum ada perubahan dalam kebijakan ekspor mineral China
Situasi masih dalam tahap pemantauan
Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, mengingatkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap negara yang menggunakan “paksaan ekonomi” menjadi risiko besar, baik untuk perdagangan maupun pariwisata.
Ketegangan diplomatik ini ikut membuat para pelaku bisnis Jepang khawatir.
Kepala tiga federasi bisnis besar Jepang, Yoshinobu Tsutsui, mendesak PM Takaichi agar membuka dialog dengan Beijing.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media