fin.co.id - PERSAGI janji siapkan ribuan lulusan ahli gizi kompeten untuk isi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) demi sukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dorong reformasi magang.
TERKUAK! Langkah Strategis PERSAGI Demi Program Gizi Nasional Berjalan Sempurna
Anda harus tahu ini! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat dinantikan publik kini memasuki babak baru yang SANGAT KRUSIAL. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) telah mengambil LANGKAH STRATEGIS yang dijamin membuat dunia pendidikan dan lapangan kerja gizi nasional BERGEMURUH!
PERSAGI tidak main-main. Mereka berkomitmen penuh menyiapkan lulusan ahli gizi paling kompeten dan siap tempur. Targetnya jelas: memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—unit vital dalam penyelenggaraan makanan yang aman dan bergizi di daerah—diisi oleh tenaga profesional sejati. Kesenjangan jumlah ahli gizi? Itu akan segera jadi masa lalu!
Kenapa langkah ini mendesak? SPPG adalah garda terdepan penentu kualitas gizi program MBG. Tanpa ahli gizi yang mumpuni di dalamnya, risiko kualitas makanan dan keamanan pangan bisa meningkat drastis. PERSAGI tahu betul, kualitas program ini ada di tangan para profesional gizi.
Kolaborasi Tiga Pilar: MoU Penting yang Mengubah Segalanya
PERSAGI menyadari bahwa mereka tidak bisa bergerak sendiri. Untuk mengatasi isu kekurangan tenaga ahli gizi di SPPG, mereka langsung tancap gas membangun kolaborasi monumental.
Pada 11 November 2025, PERSAGI resmi meneken Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Tak hanya itu, mereka juga langsung menggandeng dua kekuatan pendidikan gizi terbesar di Indonesia: Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi dan Asosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Gizi.
Ini adalah kolaborasi tiga pilar yang bertujuan menciptakan ekosistem terpadu. Dari regulasi (BGN), implementasi praktik (PERSAGI), hingga pencetak tenaga profesional (Asosiasi Pendidikan Gizi).
Reformasi Magang Gizi: SKS Magang Naik Drastis!
Inilah berita yang paling dinantikan mahasiswa gizi!
Prof. Ir. Trina Astuti, MPS., Sekjen PERSAGI, mengungkapkan strategi andalan mereka: Reformasi Program Magang Mahasiswa Gizi.
Prof. Trina menjelaskan bahwa mereka mendorong mahasiswa gizi—baik dari program vokasi (D3-D4) maupun sarjana (S1/Profesi)—untuk segera melakukan magang di SPPG setempat. Tujuan utama magang ini adalah memberikan pengalaman praktis nyata yang sangat dibutuhkan di lapangan.
Hebatnya lagi, PERSAGI mengusulkan kenaikan bobot SKS magang! Dari yang semula hanya 1-2 SKS, mereka mendesak agar bobot SKS magang dinaikkan signifikan menjadi 4 SKS! Kenaikan ini menunjukkan betapa seriusnya PERSAGI dalam memastikan mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja lapangan yang mendalam dan berbobot.
“Bagaimanapun Persagi mendukung MBG karena kita tahu dampaknya tanpa ahli gizi akan terjadi hal yang tidak kita inginkan. Kami mendorong agar mahasiswa gizi, baik dari program vokasi (D3-D4) maupun sarjana (S1/Profesi), dapat melakukan magang di SPPG setempat. Bahkan kami mengusulkan peningkatan bobot SKS magang dari 1-2 menjadi 4 SKS,” jelas Prof. Trina Astuti, menunjukkan komitmen organisasinya.