fin.co.id - Silaturahim para alim ulama yang digelar di Kantor PBNU menegaskan secara tegas tidak ada pemaksaan maupun permintaan pengunduran diri terhadap Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf.
"Semuanya, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu. Semua gembleng 100 persen ini," kata Katib Aam PBNU, KH Said Asrori, Minggu malam, 24 November 2025.
Ia menekankan kembali bahwa tidak ada pengunduran diri maupun pemakzulan.
"Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada," tegasnya.
Pertemuan yang dihadiri sekitar 50 kiai dari berbagai daerah itu juga sepakat agar kepengurusan PBNU berjalan hingga Muktamar berikutnya. Para kiai sepuh menilai gejolak yang terjadi harus dikembalikan sesuai aturan organisasi.
"Nah, maka kita akan lihat semua nanti, ini juga kita ukur dengan sistem konstitusi organisasi," ujar KH Said Asrori.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menanggapi isu sejumlah kader NU yang menginginkan dirinya mundur. Gus Yahya mendapat kritik karena kedekatannya dengan Israel, bahkan isu ini disebut dalam risalah Rapat Harian Syuriah PBNU.
Meski demikian, ia membantah tuduhan tersebut dan menegaskan langkahnya selalu untuk kepentingan Palestina.
"Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel, saya bertemu Netanyahu (Perdana Menteri Israel), Presiden Israel, saya bertemu juga dengan berbagai elemen di sana di dalam berbagai forum tahun 2018," jelas Gus Yahya, Minggu, 23 November 2025.
Kakak eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini menilai isu hubungannya dengan Israel dibesar-besarkan untuk menyerangnya agar tidak terpilih kembali dalam muktamar.
"Pada tahun 2021, Muktamar (NU), cabang-cabang dan PWNU milih saya. Mereka sudah tahu saya sudah pernah ke Israel, saya bertemu Netanyahu, mereka memilih saya (menjadi Ketum PBNU)," tambahnya.
(Fajar Ilman)