Internasional . 25/11/2025, 18:19 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Selama dua tahun terakhir, kapasitas Hizbullah memang mengalami penurunan signifikan.
Beberapa faktor yang memperburuk posisi kelompok itu antara lain:
perubahan konstelasi politik dan militer di Suriah,
tekanan internasional terhadap jaringan dukungan Iran,
dan berkurangnya suplai logistik serta dana dari Iran akibat sanksi ekonomi.
Peneliti Timur Tengah menilai bahwa serangan Israel terhadap komandan-komandan penting seperti Tabatabai adalah upaya melemahkan struktur komando Hizbullah menjelang potensi konflik lebih besar.
Fasilitas Nuklir Jadi Sasaran
Tidak hanya Hizbullah yang terpengaruh. Perubahan situasi regional juga berdampak langsung pada Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir:
fasilitas nuklir Iran beberapa kali disebut menjadi sasaran serangan Israel dan Amerika Serikat,
situasi di perbatasan Iran kerap memanas,
dan eskalasi perang regional yang sempat terjadi pada Juni lalu mempertegang hubungan Iran dengan negara-negara Barat.
Kombinasi tekanan tersebut membuat Iran kini berada dalam posisi defensif, sekaligus rawan mengambil langkah agresif untuk mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah.
Dunia Waspada Eskalasi Baru
Dengan ancaman balasan dari IRGC dan meningkatnya intensitas serangan udara Israel, dunia kembali mengawasi Timur Tengah dengan penuh kewaspadaan.
Pertanyaan besar kini muncul:
Apakah Iran benar-benar akan melancarkan balasan besar?
Akankah Hizbullah melakukan serangan ke wilayah utara Israel?
Dan apakah konflik ini bisa kembali berubah menjadi perang besar seperti 2006 atau bahkan lebih dahsyat?
Hingga kini, Israel belum memberikan komentar rinci mengenai serangan yang menewaskan Tabatabai. Namun banyak analis menilai bahwa benturan baru antara Iran, Hizbullah, dan Israel hanya tinggal menunggu waktu.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media