fin.co.id - Kondisi tanggul di kawasan Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara, kembali menjadi perhatian publik setelah permukaan air laut dilaporkan makin tinggi dibandingkan permukiman warga di sekitarnya.
Hasil pengamatan reporter Disway Group di lapangan menunjukkan, air laut berada sekitar 2–3 meter lebih tinggi dari permukaan tanah. Di sejumlah titik, terlihat rembesan yang mengalir keluar dari tanggul, menambah kekhawatiran mengenai kekuatan struktur penahan tersebut.
Situasi laut pun tampak memprihatinkan. Sampah mengapung di antara ombak, menandakan pencemaran yang semakin parah di kawasan itu. Pada bagian dalam tanggul, terdapat tembok penahan dan deretan pohon yang langsung berbatasan dengan kawasan hunian elite Jakarta Utara.
Di seberang laut terlihat gedung pencakar langit menjulang, sementara beberapa speed boat terparkir rapi di sekitar Pantai Mutiara. Meski demikian, area tanggul tampak lengang. Hanya beberapa kendaraan pribadi, kendaraan proyek, dan ojek online yang melintas. Tidak terlihat aktivitas warga di sekitar lokasi, yang tampak tertutup dan dijaga ketat oleh petugas.
Saat Disway Group mendokumentasikan kondisi tanggul melalui foto dan video, petugas keamanan langsung menegur dan meminta untuk meninggalkan area.
"Enggak boleh di sini mas, kalau enggak ada kepentingan silakan bergeser," ujar salah seorang petugas dengan nada tegas.
Pemprov DKI Siapkan Perbaikan Tanggul
Peringatan mengenai potensi risiko tanggul Pantai Mutiara sebelumnya juga pernah disampaikan oleh mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia mengingatkan bahwa jika tanggul itu jebol, dampaknya bisa meluas hingga kawasan Monas.
Menanggapi kabar rembesan terbaru, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memastikan akan melihat kondisi secara langsung.
"Itu kita dengar (tanggul rembes), makanya saya akan berkunjung," kata Rano di Jakarta, Selasa, 25 November 2025.
Bang Doel sapaan akrabnya menyebut, langkah perbaikan menjadi satu-satunya cara agar kebocoran tidak menimbulkan risiko yang lebih besar.
Ia menegaskan perlunya memastikan tingkat kerusakan sebelum tindakan teknis dilakukan.
"Kalau solusi tentu harus diperbaiki. Cuma tingkat kerembesannya seperti apa, itu mesti kita lihat," tutupnya.
(Cahyono)