Internasional . 26/11/2025, 14:46 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Selama Israel masih menjajah Palestina dan menolak pengakuan negara Palestina, Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Prinsip itu dinilai harus tetap dipertahankan.
Abraham Accord: Kesepakatan yang Dinilai Menormalisasi Penjajahan
Salah satu manuver besar AS dan Israel adalah Abraham Accord, sebuah kesepakatan diplomatik pada tahun 2020 yang ditandatangani oleh:
Uni Emirat Arab
Bahrain
Sudan
Maroko
AS disebut sebagai pihak yang mendorong negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dengan janji kerja sama di bidang:
perdagangan
teknologi
pertahanan
pariwisata
Namun banyak analis menilai, inti utama dari Abraham Accord adalah mengakhiri isolasi Israel di dunia Arab, sehingga Israel dapat memperoleh legitimasi tanpa harus menyelesaikan akar konflik: penjajahan atas Palestina.
AS disebut berharap Saudi Arabia dan bahkan Indonesia bisa ikut masuk ke dalam kesepakatan tersebut.
Penempatan Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza
Belakangan muncul pula wacana penempatan pasukan perdamaian Indonesia di Gaza. Sebagian pihak mengingatkan bahwa langkah ini dapat memiliki konsekuensi diplomatik besar.
Jika Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama apa pun dengan Israel terkait penempatan pasukan, itu bisa dianggap sebagai bentuk pengakuan diplomatik tidak langsung terhadap Israel.
Bagi Indonesia, yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sejak era Presiden Soekarno, hal ini tentu sangat sensitif.
Indonesia Diminta Tetap Konsisten: Tidak Tertipu Manuver Diplomatik
Pada akhirnya, publik berharap agar pemerintah Indonesia tetap teguh pada prinsip:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media