fin.co.id - Hubungan diplomatik Asia Timur kembali memanas. China secara langsung meminta dukungan dari Prancis di tengah konflik yang semakin mendidih dengan Jepang setelah komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan.
Dalam percakapan pada Kamis 27 November 2025 dengan penasihat diplomatik Presiden Prancis Emmanuel Macron, Emmanuel Bonne, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa Takaichi telah mengeluarkan pernyataan provokatif terkait Taiwan yang dianggap Beijing sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip satu-China.
Wang tidak hanya menyampaikan keresahan Beijing, tetapi juga meminta Prancis untuk tetap teguh dalam posisi politiknya, terutama menjelang kunjungan kenegaraan Macron ke China pekan depan.
China Tagih Komitmen Prancis pada Prinsip Satu-China
Dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri China, Wang Yi menyebut bahwa:
“Beijing dan Paris harus saling mendukung secara tegas dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti masing-masing.”
Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa China ingin Prancis bersikap lebih vokal menolak komentar Jepang, terutama karena Paris selama ini mengakui prinsip satu-China.
Meski begitu, Kedutaan Besar Prancis di Beijing belum memberikan komentar ketika dimintai tanggapan oleh sejumlah media internasional.
Prancis tampaknya memilih menjaga jarak sembari menunggu kedatangan Macron ke China yang dijadwalkan membahas isu perdagangan, ekonomi, dan stabilitas kawasan.
Beijing Terus Menekan Jepang
Tidak berhenti pada jalur diplomatik langsung, China juga memperkeras tekanan terhadap Jepang melalui berbagai kanal.
Harian resmi Partai Komunis China, People’s Daily, menulis bahwa Jepang: