fin.co.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk segera melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah pencegahan banjir menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.
Langkah tersebut diambil menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan curah hujan dengan intensitas tinggi akan melanda Jakarta mulai pekan kedua Desember 2025 hingga Januari 2026.
"Maka dengan demikian untuk modifikasi, saya minta untuk segera dilakukan, untuk mengurangi tekanan," ujar Pramono dalam sambutannya pada acara Townhall Meeting Bersama Camat dan Lurah Serta Forkopimcam di Balai Kota Jakarta, Rabu, 3 Desember 2025.
Pramono juga menjelaskan, intensitas hujan pada periode tersebut diperkirakan dapat mencapai hampir 300 milimeter (mm) per hari.
Kondisi tersebut semakin berat karena adanya potensi rob yang dapat terjadi di wilayah pesisir Utara Jakarta sepanjang Desember.
"Karena juga diperkirakan pada bulan Desember ini kemungkinan air rob-nya naik," tambah Pramono.
Oleh karena itu, Mas Pram, sapaan akrabnya, meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk memastikan seluruh pompa, baik yang stasioner maupun mobile, berada dalam kondisi siaga.
Saat ini Dinas SDA DKI memiliki 560 unit pompa stasioner yang tersebar di 191 titik serta 627 unit pompa mobile di lima wilayah kota administrasi.
"Maka Bu Ika (Kadis SDA) tolong pompa semuanya dipersiapkan," tegas Mas Pram.
Selain itu, politisi PDI Perjuangan tersebut juga mengimbau para camat dan lurah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem.
Ia juga meminta posko-posko penanganan bencana segera dibangun, baik di tingkat kecamatan maupun kelurahan.
"Memang harus ada persiapan di lapangan yang dipersiapkan secara dini," kata Pramono.
Dalam upaya jangka panjang terkait pengendalian banjir, Pramono menyampaikan bahwa pihaknya telah menandatangani surat penetapan lokasi (Penlok) proyek normalisasi untuk Kali Ciliwung maupun Kali Krukut.
Untuk normalisasi Kali Ciliwung, terdapat 14 penlok yang terdampak, sementara di Kali Krukut tercatat 65 bidang tanah yang akan dibebaskan.
"Dengan demikian mudah-mudahan persiapan yang sudah dilakukan sejak dini ini akan bisa membuat Jakarta antisipasi," pungkasnya.