fin.co.id - Tersimpan cerita pilu di perumahan baru Metro Munjul, Desa Munjul, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Setiap kali hujan deras, luapan air datang menerjang, mengubah rumah-rumah idaman menjadi lautan lumpur.
Ya, warga Metro Munjul hidup dalam bayang-bayang banjir yang telah berulang kali merendam permukiman mereka. Bukan lagi sekadar genangan air, banjir ini membawa serta trauma dan kerugian yang tak sedikit.
"Baru dua tahun kami menghuni perumahan ini, tapi sudah berkali-kali kebanjiran. Mimpi indah punya rumah baru, berubah jadi mimpi buruk," ujar Dharma Sopian, salah seorang warga kepada wartawan.
Banjir di Metro Munjul diduga kuat disebabkan oleh sistem drainase yang tidak memadai. Saluran-saluran air yang terlalu sempit tak mampu menampung debit air hujan yang deras, sehingga meluap dan merendam rumah-rumah warga.
"Drainasenya itu kecil sekali, tidak sebanding dengan luas perumahan. Kalau hujan deras, air langsung meluber ke jalan dan masuk ke rumah-rumah," imbuhnya.
Warga Metro Munjul merasa geram dengan sikap pengembang yang dinilai kurang bertanggung jawab. Mereka telah berulang kali menyampaikan keluhan dan meminta solusi atas masalah banjir ini, namun belum ada tindakan nyata yang diambil.
"Kami sudah sering mempertanyakan tanggung jawab pengembang, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami berharap pengembang segera turun tangan dan mencari solusi yang permanen, agar kami bisa hidup tenang tanpa dihantui banjir," tuturnya.
Di tengah keputusasaan, warga Metro Munjul tetap menyimpan harapan. Mereka berharap pihak pengembang segera bertindak, pemerintah daerah turun tangan, dan solusi konkret segera ditemukan.
"Kami hanya ingin hidup tenang di rumah kami sendiri," pungkas Darma.