fin.co.id - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Ahmad Purwantono, memastikan kesiapan penuh seluruh jajaran dalam menyambut Operasi Layanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Melalui apel terpadu yang sarat kolaborasi, Jasa Marga menyatakan komitmen untuk menjalankan tugas ini sebagai sebuah kewajiban, kebanggaan, dan kehormatan demi menjamin kelancaran dan keselamatan pengguna jalan tol.
Rivan Ahmad Purwantono menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antar stakeholder untuk menyukseskan layanan Nataru. Jalan tol menjadi urat nadi utama, tujuan favorit masyarakat saat liburan, termasuk Nataru. Oleh karena itu, pengamanan dan pelayanan yang prima di ruas-ruas tol harus menjadi prioritas utama. Negara harus hadir dalam setiap jengkal perjalanan masyarakat.
"Hari ini menggambarkan betapa pentingnya pelaksanaan apel terpadu. Kolaborasi ini sangat krusial. Ini bukan sekadar tugas rutin, melainkan kewajiban yang melekat pada amanah. Lebih dari itu, ini adalah kebanggaan karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan bertugas seperti ini. Dan yang terakhir, ini adalah kehormatan untuk berkolaborasi dengan baik," tegas Rivan, dalam Apel Siaga persiapan operasi pelayanan NATARU 2025/2026 di TMII, Senin, 15 Desember 2025. .
Ia menambahkan, "Kita memastikan kita bertugas dengan sangat baik. Jalan tol adalah tujuan utama masyarakat dalam Nataru maupun juga dalam liburan-liburan yang akan datang. Kita jaga ini, kita pastikan kita bertugas dengan baik, sehingga apa yang kita harapkan, negara hadir, bisa terwujud dari kewajiban, kebanggaan, dan kehormatan yang kita miliki."
Dua Isu Krusial Nataru: Pergerakan Masif dan Tantangan Cuaca
Kesiapan Jasa Marga ini mendapat apresiasi tinggi dari Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan. Ia menyoroti kolaborasi yang luar biasa, terutama semangat sinergi dari pucuk pimpinan Jasa Marga. Menurut Aan Suhanan, meskipun Operasi Nataru adalah kegiatan tahunan, penanganannya tidak boleh rutinitas. Dinamika yang terjadi pasti berbeda dari tahun ke tahun, menuntut pengelolaan yang luar biasa.
"Saya bangga, merasa bahagia melihat sinergitas pada pagi hari ini. Ini sebagai wujud kolaborasi seluruh stakeholder dalam rangka mengelola Operasi Nataru 2025-2026. Kolaborasi ini menunjukkan kita siap," ujar Aan Suhanan.
Tahun ini, dua isu besar diprediksi akan menjadi tantangan utama yang harus ditangani bersama. Pertama adalah peningkatan pergerakan masyarakat yang masif. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi ada sekitar 119 juta masyarakat Indonesia yang akan melakukan pergerakan selama libur Nataru 2025/2026 ini, mencakup semua moda transportasi. Sebagian besar dari pergerakan ini berakhir di moda transportasi darat.
Pergerakan masyarakat yang begitu tinggi, mencapai angka fantastis 119 juta, akan membawa dampak serius yang harus diantisipasi. Dampak yang paling utama terkait dengan keselamatan berlalu lintas. Semua pihak harus menjamin keselamatan di jalan sebagai prioritas utama. Dampak kedua sudah pasti adalah peningkatan volume kendaraan, yang berpotensi menyebabkan perlambatan arus dan kemacetan. Ini harus dikelola bersama secara sinergi dan kolaborasi yang kuat.
“Pergerakan masyarakat yang begitu tinggi, 119 juta, tentu akan berdampak. Yang pertama kepada keselamatan berlalu lintas. Kita harus menjamin bahwa keselamatan di jalan ini yang utama. Kemudian yang kedua pasti ada peningkatan volume kendaraan, akan ada perlambatan, akan ada kemacetan. Ini yang harus kita kelola dengan baik, kelola bersama-sama secara sinergi dan kolaborasi,” jelas Aan Suhanan.
Waspada Puncak Musim Hujan dan Potensi Bencana
Isu krusial kedua yang harus menjadi fokus seluruh stakeholder adalah terkait cuaca ekstrem. Menurut prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan Desember hingga Januari merupakan puncak musim hujan di Indonesia. Kondisi ini harus diwaspadai dan dipersiapkan dengan matang.
Hujan ekstrem dapat memicu bencana alam, seperti banjir yang sempat terjadi di Bali atau di beberapa wilayah Sumatera. Sebagai stakeholder yang mengelola transportasi darat dan jalan, termasuk Jasa Marga, harus memiliki langkah antisipasi dan mitigasi yang jelas. Ketersediaan jalur atau rute alternatif harus dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari dampak puncak hujan ini.
Ditambah lagi, prediksi BMKG menunjukkan adanya peningkatan bibit siklon dan tropical depression di wilayah Indonesia pada bulan-bulan ini. Ini menambah tingkat kewaspadaan yang harus diterapkan. Jasa Marga melalui jajarannya terlihat sudah menyiapkan semua alat dan peralatan pendukung kegiatan Operasi Nataru. Kesiapan ini menjadi modal penting untuk menghadapi lonjakan pergerakan dan tantangan cuaca ekstrem.
"Menurut prediksi dari BMKG, bulan Desember-Januari ini menjadi puncak musim hujan. Ini harus kita waspadai, harus kita persiapkan. Karena hujan ini bisa mengakibatkan bencana. Kita harus mempersiapkan alternatif-alternatif, harus memitigasi akibat dari puncak hujan ini," tutup Aan Suhanan, sembari memberikan apresiasi atas sinergi yang telah ditunjukkan oleh Jasa Marga.