Angka tersebut menjadikan bencana banjir dan longsor akhir 2025 ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Pulau Sumatra.
200 Orang Masih Hilang, Pencarian Terus Dilakukan
Selain korban meninggal dunia, BNPB juga mencatat masih ada 200 orang yang dinyatakan hilang dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
“Korban hilang yang masih dalam proses pencarian hari ini berkurang enam nama, menjadi 200 orang. Rinciannya Aceh 31 orang, Sumatera Utara 79 orang, dan Sumatera Barat 90 orang,” jelas Muhari.
Pengurangan jumlah korban hilang terjadi seiring ditemukannya sejumlah korban dalam kondisi meninggal dunia di beberapa titik pencarian.
Lebih dari 600 Ribu Warga Mengungsi
Dampak bencana ini juga menyebabkan lonjakan jumlah pengungsi. BNPB mencatat total 606.040 jiwa kini terpaksa mengungsi akibat rumah rusak, wilayah terendam, atau kondisi lingkungan yang dinilai tidak lagi aman untuk ditinggali.
Para pengungsi tersebar di ratusan titik pengungsian, mulai dari sekolah, rumah ibadah, hingga pos darurat yang didirikan pemerintah dan relawan.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus memfokuskan upaya pada pencarian korban hilang, evakuasi warga terdampak, serta pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
Di sisi lain, berbagai pihak juga mulai menyoroti pentingnya langkah mitigasi jangka panjang, termasuk pengelolaan lingkungan, tata ruang, dan perlindungan kawasan hutan untuk mencegah bencana serupa terulang di masa depan.
BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan banjir dan longsor untuk tetap waspada, mengingat potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada aparat setempat jika melihat tanda-tanda bahaya seperti pergerakan tanah, retakan lereng, atau kenaikan debit air sungai secara tiba-tiba.