fin.co.id - Siap-siap rogoh kocek lebih dalam! Fenomena kenaikan harga bahan pangan menjelang akhir tahun kembali menghantui dapur masyarakat. Kali ini, harga telur ayam ras yang mengambil panggung. Mendekati perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, komoditas sumber protein paling populer ini mulai "cari perhatian" dengan kenaikan harga yang cukup signifikan. Kalau kamu berencana bikin kue kering atau stok sarapan, sebaiknya pantau terus harga di pasar terdekat.
Bukan rahasia lagi kalau setiap penghujung tahun, tren harga pangan selalu mendaki. Namun, lonjakan harga telur kali ini terasa lebih tajam bagi para konsumen maupun pedagang. Para pedagang di pasar tradisional bahkan mulai mengeluhkan kondisi pasar yang kian sepi akibat daya beli masyarakat yang ikut menyusut seiring naiknya harga di papan pengumuman pasar.
Sejak Kapan Harga Telur Mulai Tak Terkendali?
Kenaikan harga telur ayam ras ini sebenarnya tidak terjadi dalam semalam. Menurut pengakuan sejumlah pedagang di lapangan, tren pendakian harga ini sudah mulai terasa sejak awal Desember 2025. Namun, situasinya semakin "panas" dalam sepekan terakhir, tepatnya antara tanggal 12 hingga 19 Desember 2025.
Ahmad (34), salah satu pedagang di Pasar Koja, membeberkan fakta lapangan pada Jumat (19/12/2025). Ia menyebutkan bahwa kenaikan ini terjadi sangat cepat. Bayangkan saja, dalam waktu singkat harga telur yang semula berada di kisaran Rp29.000 per kilogram kini sudah menyentuh angka Rp33.000 per kilogram. Kenaikan sebesar Rp4.000 per kilo ini jelas bukan angka yang kecil bagi para ibu rumah tangga maupun pengusaha warung makan.
"Sepekan ini naiknya lumayan, Mas. Dari harga Rp29 ribu sekarang saya jual Rp33 ribu," ujar Ahmad mengeluh. Situasi ini menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan harga komoditas pangan di tengah meningkatnya permintaan musiman menjelang libur panjang akhir tahun.
Daya Beli Melemah: Pembeli Mulai 'Ecer' Belanjaan
Dampak langsung dari harga telur yang melambung tinggi ini adalah penurunan volume belanja konsumen. Ahmad bercerita bahwa perubahan perilaku pembeli sangat terasa pada omzet hariannya. Pelanggan yang biasanya tanpa ragu membeli 1 kg telur, kini terpaksa memangkas jatah belanja mereka menjadi hanya setengah kilogram saja demi menghemat pengeluaran.
Kondisi ini tentu menciptakan efek domino. Pedagang mengalami penurunan omzet yang cukup drastis karena meskipun harga naik, total barang yang terjual justru merosot. Strategi pembeli yang mencicil belanjaan ini menjadi solusi darurat di tengah terbatasnya anggaran belanja bulanan yang tergerus kenaikan harga pangan lainnya.
Kabar Baiknya: Pasokan Telur Masih Aman Terkendali!
Meskipun dompet mungkin terasa lebih tipis, ada satu kabar yang bisa sedikit melegakan hati. Suryo, pedagang telur lainnya, memastikan bahwa masalah utama saat ini murni soal harga, bukan kelangkaan barang. Ia menegaskan bahwa stok telur di tingkat distributor maupun peternak masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode libur Nataru 2026.
"Stok mah aman. Cuma naik aja dari sananya," pungkas Suryo. Ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap. Sehari sebelumnya, ia masih menjual di angka Rp32.000 per kg sebelum akhirnya naik lagi menjadi Rp33.000 per kg pada hari ini. Hal ini mengindikasikan bahwa fluktuasi harga masih akan terus terjadi hingga puncak perayaan Tahun Baru nanti.
Tips Menghadapi Kenaikan Harga Pangan Akhir Tahun
Buat kamu yang ingin tetap hemat di tengah badai kenaikan harga telur, ada beberapa langkah cerdas yang bisa kamu lakukan:
- Bandingkan Harga: Jangan terpaku pada satu lapak saja. Terkadang perbedaan harga antar pedagang di pasar tradisional bisa mencapai Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram.
- Beli Secara Kolektif: Mengumpulkan pesanan bersama tetangga atau teman untuk membeli dalam jumlah besar (seperti satu peti) biasanya bisa mendapatkan harga grosir yang lebih miring.
- Pantau Stok: Mengingat stok dinyatakan aman, kamu tidak perlu melakukan panic buying yang justru bisa memicu harga semakin liar di pasaran.