Pengamat Nilai Anies Masuk Ormas Gerakan Rakyat sebagai Manuver Awal Menuju Pilpres 2029

news.fin.co.id - 20/12/2025, 05:05 WIB

Pengamat Nilai Anies Masuk Ormas Gerakan Rakyat sebagai Manuver Awal Menuju Pilpres 2029

Foto Ilustrasi Anies Baswedan (Dokumen Instagram)

fin.co.id - Keputusan Anies Baswedan bergabung sebagai anggota kehormatan Ormas Gerakan Rakyat dinilai sebagai manuver politik yang disengaja untuk mengambil langkah lebih awal menuju kontestasi Pilpres 2029. Langkah ini dipandang sebagai upaya membangun posisi tawar sejak dini, di tengah ruang politik yang kian terbatas bagi tokoh di luar poros koalisi besar partai.

Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, keterlibatan Anies dalam organisasi kemasyarakatan tersebut tidak bisa dilihat sekadar sebagai aktivitas sosial. Menurutnya, hal ini mencerminkan kesadaran Anies agar tidak kembali mengalami situasi politik sebelumnya, yakni memiliki dukungan elektoral kuat namun minim sokongan struktural.

“Ini langkah sadar bahwa politik Indonesia tetap bertumpu pada tiket. Anies sepertinya belajar dari pengalaman Pilkada Jakarta 2024, di mana ia kandidat kuat, tapi gagal maju karena tidak mendapat dukungan partai,” ujar Direktur Eksekutif Aljabar Strategic ini, Jumat, 19 Desember 2025.

Ia menjelaskan, keberadaan ormas dapat menjadi instrumen penting bagi Anies dalam bernegosiasi dengan partai politik. Dengan membawa basis massa serta struktur organisasi sendiri, posisi Anies dinilai lebih kuat karena tidak semata-mata bergantung pada keputusan elite partai.

Advertisement

Di sisi lain, ormas tersebut juga membuka kemungkinan berkembang menjadi partai politik. Meski opsi ini penuh risiko dan membutuhkan biaya politik besar, langkah tersebut dinilai dapat menjadi alternatif terakhir jika akses ke partai-partai yang ada semakin tertutup.

Arifki juga mengaitkan langkah Anies dengan menguatnya wacana koalisi permanen. Jika skema tersebut benar-benar terwujud, ruang kompetisi bagi figur di luar koalisi akan semakin sempit dan berpotensi membuat Anies kembali tersisih dari arena Pilpres 2029.

“Koalisi permanen adalah alarm bagi figur non-elite parpol. Jika Anies tidak bergerak sekarang, ia bisa kembali berada di luar gelanggang bukan karena kalah suara, tapi karena tidak punya kendaraan,” jelasnya.

Menurut Arifki, bergerak lebih cepat merupakan pilihan rasional bagi Anies agar tetap relevan dalam dinamika politik nasional. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ormas tidak bisa menggantikan peran partai politik dalam sistem pemilu.

“Ini langkah awal yang rasional. Tapi efektivitasnya ditentukan oleh apakah ormas ini benar-benar menjadi alat tawar politik, atau berhenti sebagai ruang konsolidasi loyalis semata,” pungkasnya.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID