Dari total sekitar 147.430 jiwa, lebih dari 50 persen penduduk IKN berasal dari dua generasi tersebut. Komposisi ini dinilai sangat strategis untuk mendukung pembangunan jangka panjang Ibu Kota Nusantara.
BPS mencatat, penduduk usia produktif (15–64 tahun) di IKN mencapai 67,91 persen dari total populasi. Angka ini mencerminkan potensi tenaga kerja yang besar untuk menopang berbagai sektor pembangunan, mulai dari konstruksi, layanan publik, hingga ekonomi kreatif.
Selain dominasi usia produktif, indikator demografi lain yang menonjol adalah rasio ketergantungan umur. Di wilayah IKN, rasio ketergantungan tercatat sebesar 47,25.
Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung sekitar 47 hingga 48 penduduk non-produktif (usia anak-anak dan lansia).
“Angka rasio ketergantungan yang berada di bawah 50 ini mengindikasikan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan non-produktif. Kondisi ini masuk dalam kategori bonus demografi,” jelas Amalia.
Bonus demografi ini menjadi peluang besar bagi pemerintah, asalkan dibarengi dengan penyediaan lapangan kerja, peningkatan kualitas SDM, serta layanan dasar yang memadai.
Dari sisi jenis kelamin, BPS mencatat bahwa jumlah penduduk laki-laki di IKN lebih banyak dibandingkan perempuan. Ketimpangan ini diduga kuat dipengaruhi oleh arus masuk tenaga kerja, terutama pekerja konstruksi bangunan.
Pembangunan infrastruktur berskala besar di kawasan IKN menjadi magnet utama bagi tenaga kerja dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini dinilai masih bersifat sementara, seiring dengan tahapan pembangunan yang masih berlangsung.
Untuk indikator fertilitas, Total Fertility Rate (TFR) di wilayah IKN pada 2025 tercatat sebesar 2,14. Angka ini menunjukkan rata-rata jumlah kelahiran yang dialami seorang perempuan selama masa reproduksinya.
“TFR sebesar 2,14 ini sudah mendekati replacement level,” tutur Amalia.
Replacement level sendiri berada di kisaran 2,1, yang berarti tingkat kelahiran cukup untuk menggantikan jumlah penduduk yang ada tanpa menyebabkan penurunan populasi dalam jangka panjang.
Berdasarkan kelompok umur, puncak kelahiran tertinggi di IKN terjadi pada perempuan usia 25–29 tahun, dengan angka sekitar 126 hingga 127 kelahiran hidup per seribu perempuan.
Sementara itu, dari sisi mortalitas, BPS mencatat bahwa angka kematian bayi di IKN pada 2025 berada di angka 14,16. Artinya, terdapat sekitar 14 hingga 15 kematian bayi per seribu kelahiran hidup.