fin.co.id - Dunia hukum dan hiburan tanah air mendadak gempar di penghujung tahun ini. Kamu pasti tidak ingin ketinggalan informasi panas mengenai skandal dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini sedang bergerak agresif menelusuri dugaan aliran dana non-budgeter yang nilainya sangat fantastis, yakni mencapai ratusan miliar rupiah. Yang bikin publik melongo, nama artis papan atas Aura Kasih mendadak disebut-sebut dalam lingkaran pusaran kasus ini.
KPK mencurigai adanya penyimpangan dalam penggunaan anggaran belanja iklan bank milik BUMD Jawa Barat tersebut. Bayangkan saja, dari total anggaran proyek sebesar Rp409 miliar, penyidik menduga lebih dari 50 persen atau sekitar Rp222 miliar justru digunakan untuk keperluan di luar peruntukan alias dana non-budgeter. Angka ini tentu bukan nominal kecil dan memicu tanda tanya besar: mengalir ke mana sajakah uang rakyat tersebut?
Penjelasan Resmi KPK Soal Dugaan Aliran Dana ke Aura Kasih
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, akhirnya buka suara menanggapi isu yang beredar luas di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa penyidik saat ini sedang mempelajari secara mendalam ke mana saja uang tersebut mengalir dan untuk kepentingan apa saja. Informasi mengenai dugaan keterlibatan publik figur seperti Aura Kasih tentu menjadi perhatian serius bagi tim penyidik.
Budi menyampaikan bahwa informasi dari masyarakat merupakan pengayaan data yang sangat penting bagi proses penyidikan. Namun, lembaga antirasuah ini belum mau terburu-buru mengambil kesimpulan. "Informasi-informasi dari masyarakat seperti ini, tentu ini menjadi pengayaan bagi penyidik dan ini penting," ujar Budi di hadapan para wartawan pada Rabu, 24 Desember 2025. KPK berkomitmen untuk memverifikasi setiap kebenaran informasi guna mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi di balik dana belanja iklan jumbo tersebut.
Aset dan Penghasilan Ridwan Kamil Masuk Radar Penyidik
Kasus ini semakin memanas karena juga menyeret nama mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK). KPK telah memeriksa sosok yang akrab disapa Kang Emil tersebut untuk mengklarifikasi berbagai hal terkait aset dan sumber penghasilannya selama menjabat. Penyidik ingin memastikan apakah ada kaitan antara penghasilan resmi RK dengan harta benda yang dimilikinya saat ini.
KPK fokus menelusuri profil kekayaan pejabat publik untuk mendeteksi adanya potensi penerimaan ilegal. Budi menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan untuk mengonfirmasi perolehan aset-aset RK selama masa jabatannya sebagai orang nomor satu di Jawa Barat. Penelusuran ini menjadi bagian dari klaster besar penyidikan korupsi pengadaan iklan BJB yang diduga merugikan keuangan negara dalam jumlah yang sangat masif.
Bantahan Keras Ridwan Kamil: Itu Semua Dana Pribadi!
Menanggapi gempuran isu dan pemeriksaan KPK, Ridwan Kamil tidak tinggal diam. Seusai menjalani pemeriksaan di gedung merah putih pada awal Desember lalu, RK membantah dengan tegas bahwa ia menggunakan dana non-budgeter untuk kepentingan pribadinya. Ia mengeklaim bahwa seluruh aset miliknya yang selama ini menjadi sorotan publik adalah murni hasil jerih payahnya sendiri.
Beberapa aset mewah yang sempat diperbincangkan publik, seperti mobil Mercedes-Benz dan motor Royal Enfield, disebut RK dibeli menggunakan tabungan pribadinya. "Ya semuanya dana pribadi. Nanti itu yang menjadi kebenaran yang saya sampaikan," tegas Ridwan Kamil. Ia bersikeras bahwa tidak ada kaitan antara gaya hidupnya dengan perkara dugaan korupsi iklan BJB yang sedang diusut oleh KPK.
Klarifikasi Soal Lisa Mariana dan Isu Pemerasan
Tak hanya soal aset fisik, Ridwan Kamil juga memberikan penjelasan terkait isu transfer dana kepada seorang perempuan bernama Lisa Mariana. RK membantah keras jika aliran dana tersebut adalah bagian dari praktik korupsi atau suap. Menurut versinya, pengiriman uang tersebut berada dalam konteks lain yang tidak berhubungan dengan urusan kedinasan atau proyek bank BJB.
Ridwan Kamil menyebut bahwa transaksi tersebut berkaitan dengan dugaan tindakan pemerasan yang dialaminya. Lagi-lagi, ia menekankan bahwa uang yang digunakan adalah uang pribadi, bukan dari kas negara atau dana operasional pemerintah. "Itu konteksnya pemerasan mas dan itu uang pribadi," ungkapnya singkat. Hingga kini, publik masih menunggu hasil akhir dari verifikasi KPK untuk melihat apakah pengakuan para pihak sesuai dengan bukti lapangan yang ditemukan penyidik. - Fajar Ilman/Disway -