Perempuan Nelayan dari Indonesia Timur Dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif 2025

news.fin.co.id - 24/12/2025, 14:33 WIB

Perempuan Nelayan dari Indonesia Timur Dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif 2025

Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat berhasil menorehkan prestasi nasional dengan meraih penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

fin.co.id - Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat berhasil menorehkan prestasi nasional dengan meraih penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Penghargaan ini diberikan dalam agenda bertema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045” yang menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan nasional.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf menyampaikan bahwa penerima penghargaan tersebut adalah Sri Fany Mony, Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara, serta Nova Theodora J.M. Essuruw dari Teluk Arguni, Kaimana, Papua Barat. Keduanya dinilai membawa perubahan nyata bagi perempuan di wilayah pesisir.

"Kedua perempuan tersebut menunjukkan transformasi signifikan dalam pemberdayaan perempuan pesisir," kata Didit dalam keterangannya, Rabu, 24 Desember 2025.

Sri Fany Mony memulai perjalanannya sebagai ibu rumah tangga tanpa aktivitas ekonomi. Kini, ia memimpin kelompok usaha produktif yang mengolah hasil perikanan serta mengembangkan produk ecoprint berbasis sumber daya lokal. Sepanjang 2025, Poklahsar Dullah Tama mencatatkan pendapatan sebesar Rp44,1 juta atau tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kelompok ini juga aktif membagikan praktik baik hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Advertisement

Sementara itu, Nova Theodora J.M. Essuruw, yang juga merupakan pendeta Protestan dan Ketua Wilayah di Teluk Arguni, menghadirkan inovasi dalam pengelolaan hasil perikanan. Melalui Kelompok Seraphim Bofuwer, Nova menginisiasi pemanfaatan ikan kakap cina yang sebelumnya kerap terbuang karena hanya dimanfaatkan gelembung renangnya.

Kini, kakap cina tersebut diolah menjadi berbagai produk pangan bergizi seperti abon ikan, sambal, kecap ikan, serta aneka produk bernilai tambah lainnya.

"Inisiatif ini tidak hanya mengurangi pemborosan sumber daya perikanan, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir," imbuhnya.

Berkat jejaring pemasaran yang dibangun secara konsisten, produk Seraphim Bofuwer telah menjangkau pasar di Fakfak, Sorong, Timika, hingga Jayapura. Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 serta memperoleh pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Kedua perempuan tersebut dinilai tidak hanya berhasil sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak komunitas pesisir dan pelopor penerapan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM).

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menjelaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil seleksi bersama antara KemenPPPA dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Sri Fany dan Nova juga merupakan Champion CFI Indonesia dalam Project GEF-6 CFI Indonesia, sebuah program hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility (GEF) Agency. Proyek ini berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa inisiatif Champion dirancang untuk memastikan dampak program tetap berlanjut meski proyek telah berakhir. Para Champion disiapkan sebagai agen perubahan melalui penguatan komunitas, pengembangan mata pencaharian alternatif, serta penerapan praktik perikanan berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan, dengan sekitar 32 persen di antaranya merupakan perempuan. Program ini mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, pengembangan kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, hingga fasilitasi kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Advertisement

Dalam kerangka CFI Indonesia, Champion merupakan nelayan kecil terlatih yang berperan sebagai pelatih komunitas dan agen perubahan. Mereka dibekali keterampilan teknis, pengolahan produk bernilai tambah, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta penerapan prinsip EAFM untuk mendukung ekonomi biru yang berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi keluarga, pengurangan limbah sumber daya perikanan, serta penguatan ketahanan sosial dan ekologis wilayah pesisir. Dari tingkat lokal hingga nasional, perempuan nelayan Indonesia terus menunjukkan peran strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID