Internasional . 24/12/2025, 19:55 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Tekanan terhadap nilai tukar rupee India kian menguat sepanjang tahun 2025. Minimnya kemajuan dalam perundingan kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan India, ditambah arus keluar dana asing yang terus berlanjut, membuat rupee tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia tahun ini.
Mengutip laporan CNBC, Rabu 24 Desember 2025, mata uang negara dengan ekonomi terbesar kelima dunia tersebut diperkirakan masih akan melemah hingga level 92 rupee per dolar AS pada akhir Maret 2026.
Proyeksi tersebut disampaikan oleh Nomura dan S&P Global Market Intelligence, dengan catatan bahwa peluang penguatan rupee sangat bergantung pada tercapainya kesepakatan dagang antara New Delhi dan Washington.
Hingga perdagangan terakhir, rupee berada di kisaran 89,6 per dolar AS, mendekati level psikologis yang semakin membebani sentimen pasar.
Kepala Ekonomi Asia-Pasifik S&P Global Market Intelligence, Hanna Luchnikava-Schorsch, menilai bahwa secara fundamental rupee saat ini berada pada posisi undervalued.
“Kami percaya rupee saat ini undervalued, dengan koreksi yang diantisipasi setelah ada kejelasan lebih lanjut tentang perjanjian perdagangan AS–India,” ujar Luchnikava-Schorsch.
Unit riset S&P Global memperkirakan bahwa kesepakatan perdagangan tersebut berpotensi tercapai dalam enam bulan ke depan. Namun, proses negosiasi yang berjalan lambat membuat tekanan terhadap mata uang India belum juga mereda.
Saat ini, India termasuk negara yang dikenakan tarif perdagangan tertinggi oleh AS, mencapai 50 persen, bahkan lebih tinggi dibandingkan tarif terhadap China.
Tingginya tarif inilah yang menjadi salah satu faktor utama berlarut-larutnya perundingan antara kedua negara.
Dampak kebijakan tarif AS langsung terasa pada kinerja perdagangan India. Setelah tarif tinggi diberlakukan pada Agustus 2025, ekspor India ke AS mengalami penurunan signifikan.
Pada September 2025, ekspor India ke AS turun hampir 12 persen, lalu kembali melemah 8,5 persen pada Oktober 2025. Namun, kondisi tersebut sempat membaik pada November 2025, ketika ekspor melonjak tajam hingga 22,6 persen.
Meski menunjukkan tanda pemulihan, ketidakpastian kebijakan perdagangan tetap menjadi beban utama bagi nilai tukar rupee dan kepercayaan investor global.
Menurut Sonal Varma, Kepala Ekonom Nomura untuk India dan Asia di luar Jepang, risiko ekonomi terbesar India saat ini adalah potensi hilangnya momentum dalam pergeseran rantai pasok global, terutama dari perusahaan-perusahaan yang berorientasi ke pasar AS.
“Ketidakpastian yang berkepanjangan telah menyebabkan arus keluar portofolio asing, dan rupee yang lebih lemah dapat memengaruhi biaya impor serta inflasi,” ujar Varma.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media