Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, BMKG menilai peluang Bibit Siklon Tropis 96S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam ke depan masih berada dalam kategori rendah.
“Secara umum, potensi Bibit Siklon Tropis 96S untuk berkembang menjadi siklon tropis masih rendah,” kata Andri.
Namun demikian, masyarakat tetap diminta untuk waspada karena meskipun tidak berkembang menjadi siklon tropis, sistem ini tetap dapat memicu dampak cuaca tidak langsung, terutama di wilayah perairan.
BMKG memprakirakan bahwa dalam 24 jam ke depan, Bibit Siklon Tropis 96S masih akan bertahan di wilayah yang relatif sama tanpa perubahan signifikan.
Dalam rentang 24–48 jam ke depan, sistem ini berpotensi mengalami sedikit peningkatan kecepatan angin hingga mencapai 20 knot, terutama di bagian utara pusat sirkulasi.
Selanjutnya, dalam 24–72 jam ke depan, sistem diperkirakan bergerak ke arah timur laut, menuju wilayah dengan wind shear vertikal yang cukup kuat, sehingga kembali menghambat perkembangannya. Sekitar 72 jam kemudian, sistem diprediksi berbelok ke arah barat daya.
Wilayah yang Berpotensi Terdampak Bibit Siklon Tropis 96S
BMKG menyebutkan bahwa dampak utama dari Bibit Siklon Tropis 96S adalah peningkatan tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah perairan Indonesia.
1. Gelombang Tinggi 1,25–2,5 Meter (Kategori Sedang)
Gelombang dengan ketinggian 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di:
-
Perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur
-
Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga DI Yogyakarta
-
Perairan selatan Pulau Lombok hingga Pulau Timor
-
Laut Sawu
-
Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT)
2. Gelombang Tinggi 2,5–4 Meter (Kategori Tinggi)
Sementara itu, gelombang tinggi 2,5–4 meter diprakirakan terjadi di:
-
Selat Bali bagian selatan
-
Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Barat (NTB)
Selain Bibit Siklon Tropis 96S, BMKG juga masih memantau keberadaan Siklon Tropis Grant yang berada di Samudra Hindia barat daya Bengkulu.