Nasional . 01/01/2026, 10:30 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai teramati di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin.
fin.co.id - Lonjakan kasus influenza di Amerika Serikat menjadi perhatian serius seiring kemunculan varian baru yang dikenal sebagai influenza A subclade K atau kerap disebut “super flu”.
Musim flu yang baru berlangsung ini tercatat telah menyebabkan puluhan ribu warga harus dirawat di rumah sakit, bahkan ribuan kasus berujung kematian, menandai peningkatan tajam penyakit musiman tersebut.
Berdasarkan catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, hingga 20 Desember sebanyak 7,5 juta orang terinfeksi influenza. Dari jumlah itu, sekitar 81.000 pasien menjalani perawatan di rumah sakit dan lebih dari 3.100 orang meninggal dunia. Korban jiwa juga mencakup anak-anak, dengan delapan kasus kematian dilaporkan.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa situasi influenza A subclade K di dalam negeri hingga akhir Desember 2025 masih relatif terkendali. Tidak ditemukan adanya peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan clade atau subclade influenza lainnya.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai teramati di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin.
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan menyebar ke lebih dari 80 negara.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima.
Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan muncul di sejumlah negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meski influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus di negara-negara tersebut justru tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.
Kondisi serupa juga terlihat di Indonesia. Hasil surveilans menunjukkan influenza A(H3) masih menjadi varian dominan, dengan tren kasus nasional yang menurun dalam dua bulan terakhir.
Pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember 2025 mendeteksi subclade K sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media