Nasional . 02/01/2026, 19:38 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi bahwa super flu, varian Influenza A (H3N2) Subclade K, telah terdeteksi masuk ke Indonesia sejak 25 Desember 2025.
Meski istilah “super flu” terdengar mengkhawatirkan, pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Hingga saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah bahwa varian Subclade K menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan virus influenza yang sebelumnya sudah beredar.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine, menjelaskan bahwa kemunculan Subclade K tetap perlu diwaspadai, namun tidak menimbulkan lonjakan risiko keparahan secara signifikan.
“Merujuk pada publikasi terbaru Desember 2025, influenza A (H3N2) merupakan salah satu virus emerging yang pernah menyebabkan pandemi di Amerika Serikat pada tahun 1968 dan kembali menjadi penyebab peningkatan flu pada 2024 hingga 2025, khususnya pada kelompok anak-anak,” jelas dr Prima.
Menurutnya, deteksi dini dan pemantauan tetap dilakukan, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Super flu yang ramai dibicarakan ini sebenarnya bukan virus baru sepenuhnya. Menurut Amesh A. Adalja, M.D., peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security, Subclade K merupakan cabang mutasi terbaru dari Influenza A (H3N2) yang sudah bersirkulasi selama puluhan tahun.
Varian ini pertama kali terdeteksi pada Juni 2025 dan sejak itu menunjukkan penyebaran yang cukup cepat di berbagai negara. Hal inilah yang membuat para ahli kesehatan global meningkatkan kewaspadaan.
Super flu umumnya membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari setelah terpapar sebelum gejala muncul. Secara umum, gejalanya mirip flu biasa, namun bisa terasa lebih berat pada kelompok tertentu.
Gejala super flu yang umum meliputi:
Batuk
Sakit tenggorokan
Hidung berair atau tersumbat
Nyeri otot atau pegal-pegal
Sakit kepala
Kelelahan ekstrem
Pada sebagian orang, gejala bisa terasa ringan dan sembuh dengan istirahat. Namun, pada kelompok rentan, dampaknya bisa jauh lebih serius.
Virus ini dinilai lebih berbahaya bagi orang lanjut usia, individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, serta mereka yang memiliki kondisi kebugaran rendah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media