Nasional . 05/01/2026, 16:52 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Seluruh permukaan bumi dianggap sebagai satu matlak (wilayah penentuan)
Ketinggian bulan minimal 5 derajat
Elongasi bulan minimal 8 derajat
Perhitungan dilakukan sebelum pukul 00.00 UTC
Parameter ini disepakati dalam Kongres Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul pada 2016 dan dinilai lebih universal karena tidak terikat pada wilayah tertentu.
Sebagai ilustrasi, berdasarkan KHGT, 1 Syawal 1548 Hijriah diperkirakan jatuh pada Jumat, 17 Maret 2124, dan akan dirayakan secara serentak oleh umat Islam di berbagai negara.
Namun, jika mengacu pada kalender resmi Kementerian Agama RI, 1 Syawal pada tahun tersebut diprediksi jatuh pada 18 Maret 2124.
Contoh ini menunjukkan bagaimana perbedaan metode dapat menghasilkan tanggal yang berbeda, meskipun sama-sama menggunakan pendekatan astronomi.
Sementara itu, pemerintah melalui Kalender Hijriah Indonesia 2026 memperkirakan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Penetapan ini menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS, yang selama ini menjadi standar resmi pemerintah Indonesia. Kriteria MABIMS mempertimbangkan:
Tinggi hilal minimal tertentu
Sudut elongasi bulan
Kemungkinan hilal dapat terlihat secara langsung
Hasil hisab ini nantinya akan dikonfirmasi melalui Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama menjelang akhir bulan Syaban.
Perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah umumnya terjadi karena:
Perbedaan sistem kalender (global vs regional)
Perbedaan kriteria astronomi
Pendekatan rukyat dan hisab yang berbeda
Perbedaan konsep matlak (wilayah penentuan)
Meski berbeda, kedua pendekatan tersebut sama-sama memiliki dasar ilmiah dan syar’i. Perbedaan ini juga telah menjadi bagian dari dinamika keberagamaan di Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi.
Perbedaan penetapan awal puasa Ramadan 2026 seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, hal ini dapat dimaknai sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam.
Umat Islam di Indonesia diharapkan tetap saling menghormati pilihan masing-masing, baik yang mengikuti Muhammadiyah maupun keputusan pemerintah. Yang terpenting, esensi Ramadan sebagai bulan ibadah, refleksi, dan peningkatan ketakwaan tetap terjaga. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media