fin.co.id - Aksi unjuk rasa besar pecah di ibu kota Iran, Teheran, pada Selasa 6 Januari 2026. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai ini dilaporkan berujung rusuh dan menelan korban jiwa.
Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) hak asasi manusia melaporkan bahwa puluhan demonstran tewas akibat tindakan aparat keamanan Iran.
Gelombang protes ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup yang kian membebani masyarakat. Situasi ekonomi Iran semakin terpuruk setelah nilai mata uang rial terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang asing lainnya, membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
LSM HAM Iran (Iran Human Rights/IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan bahwa sedikitnya 27 orang tewas dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di Teheran.
Dari jumlah tersebut, lima korban diketahui masih berusia di bawah 18 tahun.
“Korban jiwa jatuh akibat tindakan keras aparat keamanan terhadap massa demonstran,” ungkap IHR dalam pernyataan resminya.
Tidak hanya itu, IHR juga melaporkan insiden mengejutkan berupa penyerbuan aparat keamanan ke sebuah rumah sakit di kawasan Hasanabad, Teheran.
Dalam kejadian tersebut, aparat disebut menembakkan gas air mata ke dalam area rumah sakit, yang memicu kepanikan pasien dan tenaga medis.
Sementara itu, Kepolisian Iran mengakui bahwa kerusuhan yang terjadi juga menelan korban dari pihak aparat. Beberapa anggota kepolisian dilaporkan tewas dan luka-luka akibat bentrokan dengan demonstran, sebagaimana dikutip dari laporan AFP.
Namun, pihak berwenang Iran belum merinci jumlah korban dari pihak keamanan maupun menjelaskan secara detail kronologi penggunaan kekuatan terhadap massa aksi.
Gelombang protes di Iran sejatinya telah dimulai sejak 28 Desember 2025. Kala itu, para pedagang menutup toko-toko mereka di pasar utama Teheran, yang dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional Iran.
Penutupan pasar ini menjadi simbol kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi yang semakin sulit. Tak lama berselang, demonstrasi besar pun menyebar ke berbagai wilayah ibu kota, termasuk kawasan barat Teheran yang dihuni oleh kelompok minoritas Kurdish dan Lor.
Banyak pengamat menilai demonstrasi kali ini sebagai yang terbesar sejak gelombang protes 2022–2023, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi moral Iran.
Mahsa Amini ditangkap kala itu karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat yang diberlakukan pemerintah Iran. Peristiwa tersebut memicu kemarahan nasional dan internasional, serta mengguncang stabilitas politik Iran selama berbulan-bulan.