Intisari:
- Pemerintah Iran menuding AS dan Israel mencampuri urusan internal serta menghasut kekerasan di tengah gelombang protes.
- Aksi protes meluas ke 222 lokasi di 78 kota dan 26 provinsi, dengan korban tewas dilaporkan mencapai 20 orang.
- Aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan, sementara laporan penggunaan kekerasan terhadap demonstran terus bermunculan.
fin.co.id - Gelombang protes yang terus meluas di Iran memasuki hari kesembilan. Di tengah situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menuding Amerika Serikat dan Israel telah mencampuri urusan internal negaranya.
Iran menilai, pernyataan-pernyataan publik dari pejabat Amerika dan Israel telah mendorong terjadinya kekerasan dan gelombang aksi demontrasi besar-besaran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel merupakan bentuk intervensi terhadap urusan dalam negeri Iran dan termasuk hasutan kekerasan jika ditinjau dari norma internasional.
Ia juga menolak apa pihak asing untuk menampilkan diri seolah-olah sebagai pendukung rakyat Iran.
“Tindakan atau pernyataan oleh tokoh-tokoh seperti perdana menteri Israel atau pejabat AS radikal dan garis keras tertentu mengenai urusan internal Iran, menurut norma internasional, tidak lebih dari hasutan untuk melakukan kekerasan, terorisme, dan pembunuhan," katanya dikutip dari iranintl, Sabtu 10 Januari 2026.
Baghaei yakin masyakat Iran tidak percaya dengan Washington dan Israel. Ia menyatakan bahwa publik Iran tidak akan terpengaruh oleh retorika yang menipu dari AS dan Israel.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mendasarkan kebijakan keamanannya pada pernyataan pejabat Israel.
Menurutnya, Israel kerap melontarkan pernyataan yang menyesatkan, sehingga kewaspadaan militer Iran akan tetap dijaga.
“Kami tidak akan mempercayai atau bergantung pada pernyataan para pejabat dari rezim Zionis,” katanya. “Pola penipuan rezim itu jelas bagi kami.”
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah laporan meluasnya aksi protes di berbagai wilayah Iran. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa demonstrasi telah terjadi di 222 lokasi di seluruh negeri, mencakup 78 kota di 26 provinsi. Aksi tersebut meliputi demonstrasi jalanan, pemogokan, hingga kerusuhan mahasiswa.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Washington memantau perkembangan di Iran dengan sangat cermat. Ia juga melontarkan peringatan keras terkait situasi tersebut.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat,” Kata Trump.
Sedikitnya 19 warga sipil dan satu anggota pasukan keamanan dilaporkan tewas akibat kerusuhan yang terus berlanjut di Iran. Selain itu, sedikitnya 51 orang mengalami luka-luka, dengan sebagian besar disebabkan oleh peluru karet dan peluru pelet. *